Minggu, 30 Mei 2010

KONSEP KEHILANGA DAN BERDUKA

KEHILANGAN
DEFINISI KEHILANGAN

Kehilangan pribadi adalah segala kehilangan signifikan yang membutuhkan adaptasi melalui proses berduka. Kehilangan terjadi ketika sesuatu atau seseorang tidak dapat lagi ditemui, diraba, didengar, diketahui atau dialami. Tipe dari kehilangan mempengaruhi tingkat distress. Misalnya, kehilangan benda mungkin tidak menimbulkan distress yang sama ketika kehilangan seseorang yang dekat dengan kita. Namun demikian, setiap individu berespon terhadap kehilangan secara berbeda. Kematian seorang anggota keluarga mungkin menyebabkan distress lebih besar dibandingkan ke hewan peliharaan, tetapi bagi seseorang yang hidup sendiri kematian hewan peliharaan menyebabkan distress emosional yang lebih besar dibanding dengan saudaranya yang sudah tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun. Tipe kehilangan penting artinya untuk proses berduka; namun perawat harus mengenali bahwa setiap interpretasi seseorang tentang kehilangan sangat bersifat individualistis.
Kehilangan dapat bersifat aktual atau dirasakan. Kehilangan yang bersifat aktual dapat dengan mudah diidentifikasi, misalnya seorang anak yang teman bermainnya pindah rumah atau seorang dewasa yang kehilangan pasangan akibat bercerai. Kehilangan yang dirasakan kurang nyata dan dapat disalahartikan, seperti kehilangan kepercayaan diri atau prestise. Makin dalam makna dari apa yang hilang, maka makin besar perasaan kehilangan tersebut. Klien mungkin mengalami kehilangan maturasional (kehilangan yang diakibatkan oleh transisi kehidupan normal untuk pertama kalinya, kehilangan situasional (kehilangan yang terjadi secara tiba-tiba dalam merespon kejadian eksternal spesifik seperti kematian mendadak dari orang yang dicintai) atau keduanya.

JENIS KEHILANGAN

Kehilangan Objek Eksternal
Kehilangan benda eksternal mencakup segala kepemilikian yang telah menjadi usang, berpindah tempat, dicuri, atau rusak karena bencana alam. Bagi seorang anak benda tersebut mungkin berupa boneka atau selimut, bagi seorang dewasa berupa perhiasan atau aksesoris pakaian. Kedalaman berduka yang dirasakan seseorang terhadap benda yang hilang bergantung pada nilai yang dimiliki orang tersebut terhadap benda yang dimilikinya, dan kegunaan dari benda tersebut.
Kehilangan Lingkungan yang Telah Dikenal
Kehilangan yang berkaitan dengan perpisahan dari lingkungan yang telah dikenal mencakup meninggalkan lingkungan yang telah dikenal selma periode tertentu atau perpindahan secara permanen. Contohnya termasuk pindah ke kota baru, mendapat pekerjaan baru, atau perawatan di rumah sakit. Kehilangan melalui perpisahan dari lingkungan yang telah dikenal dapat terjadi melalui situasi maturasional, misalnya ketika seorang lansia pindah ke rumah perawatan, atau situasi situasional, contohnya kehilangan rumah akibat bencana alam atau mengalami cedera atau penyakit.
Kehilangan Orang Terdekat
Orang terdekat mencakup orang tua, pasangan, anak-anak, saudara sekandung, guru, pendeta, teman, tetangga, dan rekan kerja. Kehilangan dapat terjadi akibat perpisahan, pidah, melarikan diri, promosi di tempat kerja, dan kematian.
Kehilangan Aspek Diri
Kehilangan aspek dalam diri dapat mencakup bagian tubuh, fungsi fisiologis, atau psikologis. Kehilangan bagian tubuh dapat mencakup anggota gerak, mata, rambut, gigi, atau payudara. Kehilangan fungsi fisiologis mencakup kehilangan kontrol kandung kemih atau usus, mobilitas, kekuatan atau fungsi sensoris. Kehilangan fungsi psikologi termasuk kehilangan ingatan, rasa humor, harga diri, percaya diri, kekuatan, respeks, atau cinta. Kehilngan seperti ini dapat menurunkan kesejahteraan individu. Orang tersebut tidak hanya mengalami kedukaan akibat kehilangan tetapi juga dapat mengalami perubahan permanen dalam citra tubuh dan konsep diri.
Kehilangan Hidup
Seseorang yang menghadapi kematian menjalani hidup, merasakan, berpikir, dan merespons terhadap kejadian dan orang sekitarnya sampai terjadinya kematian. Perhatian utama sering bukan kepada kematian itu sendiri tetapi mengenai nyeri dan kehilangan kontrol. Meskipun sebagian besar orang takut tentang kematian dan gelisah mengenai kematian, masalah yang sama tidak akan sama pentingnya bagi setiap orang.

DAMPAK KEHILANGAN

Pekerjaan duka cita terdiri dari berbagai tugas yang dihubungkan dengan situasi ketika seseorang melewati dampak dan efek dari perasaan kehilangan yang telah dialaminya. Duka cita berpotensi untuk berlangsung tanpa batas waktu.
Perawat merawat klien yang mengalami banyak tipe kehilangan, seperti klien yang dirawat di rumah sakit yang mengalami banyak kehilangan termasuk kesehatan, kemandirian, kontrol terhadp lingkungannya, dan keamanan finansial. Kehilangan mengancam konsep diri, harga diri, keamanan, dan rasa makna diri. Perawat harus mengenali makna dari setiap kehilangan bagi klien dan dampaknya bagi fungsi fisik dan psikologis.
Efek atau dampak dari kehilangan tergantung pada faktor-faktor, yaitu :
1.Usia
2.Jalannya kematian
3.Hubungan dengan orang yang meninggal
4.Pengalama masa lalu
5.Kepribadian
6.Persepsi tentang kehilangan
7.Makna tertentu dari kehilangan yang mereka miliki
8.Respon keluarga terhadap keluarga

KEMATIAN
Kematian adalah realitas yang sering terjadi dalam lingkungan asuhan keperawatan. Sebagian besar perawat berinteraksi dengan klien dan keluarga yang mengalami kehilangan dan dukacita.
Usia memainkan peranan dalam pengenalan dan raksi terhadap kehilangan. Hubungan antara orang yang ditinggalkan dengan orang yang meninggal menentukan respon yang terjadi pada kehilangan. Pada anak-anak, respon terhadap kehilangan itu tergantung pada tingkat perkembangan anak. Anak-anak berpikir tentang kematian dengan cara yang berbeda setelah usia mereka bertambah :
•Lahir sampai usia 2 tahun
o Tidak mempunyai konsep tentang kematian
o Dapat mengalami rasa kehilangan dan duka cita
o Pengalaman ini menjadi dasar untuk berkembangnya konsep tentang kehilangan dan duka cita
•Usia 2-5 tahun
o melihat kematian sebagai keadaan yang sifatnya sementara sama seperti tidur atau sesuatu yang dapat hidup kembali
o menyangkal kematian sebagai suatu proses yang normal
•Usia 5-8 tahun
o Melihat kematian sebagai akhir dan tidak terjadi pada dirinya.
o Kematian sebagai hal yang mnakutkan.
•Usia 8-12 tahun
o melihat kematian sebagai akhir dan tidak dapat dihindari
o menyadari kemungkinan kematiannya sendiri
•Remaja
o Memahami seputar kematian serupa dengan orang dewasa
o Menunjukkan perilaku berisiko
Pengalaman duka cita bersifat individu dan dipengaruhi oleh banyak faktor, kemudian dapat mempengaruhi aspek kehidupan lainnya. Duka cita lebih dari sekedar tetesan air mata, dimana ia memanifestasikan dirinya sendiri dalam kesadaran fisik, tingkah laku, jiwa psikologi, dan kehidupan social seseorang seperti halnya perilaku emosional.


DUKA CITA, BERKABUNG DAN KEHILANGAN KARENA KEMATIAN

Kehilangan karena kematian adalah suatu keadaan pikiran, perasaan, dan aktivitas yang mengikuti kehilangan. Keadaan ini mencakup dukacita dan berkabung. Dukacita adalah proses mengalami reaksi psikologis, sosial, dan fisik terhadap kehilangan di persepsikan (Rando,1991). Respon ini termasuk keputusasaan, kesepian, ketidak berdayaan, kesedihan, rasa bersalah, dan marah. Berkabung adalah proses yang mengikuti suatu kehilangan yang mencakup berupaya untuk melewati dukacita. Proses dukacita dan berkabung bersifat mendalam, internal, menyedihkan, dan berkepanjangan. Istilah dukacita, bekabung, dan kehilangan karena kematian sering digunakan secara tumpang tindih.
Penting untuk membedakan antara kehilangan, berduka dan berkabung. Kehilangan secara literal berarti mengambil dari dan mengacu pada suatu keadaan kehilangan yang diakibatkan oleh kematian dari orang yang berarti. Emosi ini sama pada semua budaya. Tingkah laku berkabung adalah apa yang digambarkan menurut kebudayaan sebagai cara mengungkapkan kehilangan dan berduka. Tingkah laku berkabung dapat berbeda antara kebudayaan yang satu dengan yang lain, misalnya umat Hindu melaksanakan suttee dan umat Yahudi melaksanakan duduk shiva selama 7 hari sesudah pemakaman.

Definisi Berduka
Duka cita bermakna kesedihan yang mendalam disebabkan karena kehilangan seseorang yang dicintainya (misal kematian). Menurut Cowles dan Rodgers (2000), duka cita dapat digambarkan sebagai berikut : Duka cita dilihat sebagai suatu keadaan yang dinamis dan selalu berubah-ubah. Duka cita tidak berbanding lurus dengan keadaan emosi, pikiran maupun perilaku seseorang. Duka cita adalah suatu proses yang ditandai dengan beberapa tahapan atau bagian dari aktivitas untuk mencapai beberapa tujuan, yaitu:
1.Menolak (denial)
2.Marah (anger)
3.Tawar-menawar (bargaining)
4.Depresi (depression)
5.Menerima (acceptance

Jenis Berduka
Dukacita mencakup pikiran, perasaan, dan prilaku. Tujuan duka cita adalah untuk mencapai fungsi yang lebih efektif dengan mengintegrasikan kehilangan kedalam pengalaman hidup klien. Pencapaian ini membutuhkan waktu dan upaya. Istilah ”upaya melewati dukacita” berasal dari seorang psikiater Erich Lindemann (1965) yang menggambarkan tugas dan proses yang harus diselesaikan dengan berhasil agar dukacita terselesaikan. Orang yang mengalami dukacita mencoba berbagai strategi untuk menghadapinya. Worden (1982) menggarisbawahi empat tugas dukacita yang memudahkan penyesuaian yang sehat terhadap kehilangan, dan Harper (1987) merancang tugas dalam akronim ”TEAR’:
1.T- To accept the reality of the loss (untuk menerima realitas dari kehilangan.)
2.E- Experience the pain of the loss (mengalami kepedihan akibat kehilangan).
3.A- Adjust to the new environment without the lost object (menyesuaikan lingkungan yang tidak lagi mencakup orang, benda, atau aspek diri yang hilang).
4.R- Reinvest in the new reality (memberdayakan kembali energi emosional ke dalam hubungan yang baru).

Respon Berduka
Respon dukacita dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Dukacita Adaptif
Dukacita adaptif termasuk proses berkabung, koping, interaksi, perencanaan, dan pengenalan psikososial. Hal ini dimulai dalam merespons terhadap kesadaran tentang suatu ancaman kehilangan dan pengenalan tentang kehilangan yang berkaitan dengan masa lalu, saat ini, dan masa mendatang. Dukacita yang adaptif terjadi pada mereka yang menerima diagnosis yang mempunyai efek jangka panjang terhadap fungsi tubuh, seperti pada lupus eritomatosus sistemik. Klien mungkin merasa sangat sehat ketika didiagnosis tetapi mulai berduka dalam merespons informasi tentang kehilangan di masa mendatang yang berkaitan dengan penyakit. Dalam situasi seperti ini , dukacita adaptif dapat mendalam lama dan dapat terbuka. Dukacita adaptif bagi klien menjelang ajal mencakup melepas harapan, impian, dan harapan terhadap masa depan jangka panjang. Keterlibatan secara kontinu dengan klien menjelang ajal dan tujuan untuk memaksimalkan kemungkinan hidup bukan hal yang tidak sesuai dengan pengalaman dukacita adaptif. Dukacita adaptif bagi klien menjelang ajal mempunyai akhir yang pasti. Hal tersebut akan menghilang sejalan dengan kematian klien; meskipun duka cita berlanjut, tetapi dukacita tersebut tidak lagi adaptif. Klien, keluarganya, dan perawat dihadapkan dengan serangkaian tugas adaptasi dalam proses dukacita adaptif (Rando,1986).
2. Dukacita Terselubung
Dukacita terselubung terjadi ketika seseorang mengalami kehilangan yang tidak atau tidak dapat dikenali, rasa berkabung yang luas,atau didukung secara sosial. Konsep mengenali bahwa masyarakat mempunyai serangkaian norma mengenai “aturan berduka” yang berupaya untuk mengkhususkan siapa, kapan, di mana, bagaimana, berapa lama, dan kepada siapa orang harus berduka. Dukacita mungkin terselubung dalam situasi dimana hubungan antara yang berduka dan meninggalkan tidak didasarkan pada ikatan keluarga yang dikenal. Dukacita ini dapat mencakup teman, pemberi perawatan, dan rekan kerja atau hubungan non-tradisional, seperti hubungan di luar perkawinan atau hubungan homoseksual dan mereka yang hubungannya terjadi pada masa lalu, seperti bekas pasangan.

KONSEP DAN TEORI BERDUKA
Duka cita adalah respon normal terhadap setiap kehilangan. Perilaku dan perasaan yang berkaitan dengan proses berduka terjadi pada individu yang menderita kehilangan seperti perubahan fisik atau kematian teman dekat. Proses ini juga terjadi ketika individu menghadapi kematian mereka sendiri. Seseorang yang mengalami kehilangan, keluarganya dan dukungan sosial lainnya juga mengalami duka cita.
Konsep dan teori berduka hanya cara yang dapat digunakan untuk mengantisipasi kebutuhan emosional klien dan keluarganya serta merencanakan intervensi untuk membantu mereka memahami duka cita dan menghadapinya.
Penting artinya untuk mempertimbangkan beberapa teori tentang kedukaan. Ketika mendiskusikan tentang tahapan, fase atau tugas, penting artinya untuk mengingat bahwa hal ini tidak terjadi dengan urutan yang kaku, tetap dapat diperkirakan. Tujuannya bukan untuk mengklasifikasi duka cita klien. Dengan demikian perawat tidak harus mengidentifikasi duka cita klien sebagai mengalami tahapan khusus duka cita. Peran perawat adalah mengamati perilaku berduka, mengenali pengaruh berduka terhadap perilaku dan memberikan dukungan yang empatik.
a. Teori Engel
Engel (1964) mengajukan bahwa proses berduka mempunyai tiga fase yang dapat diterapkan pada seseorang yang berduka dan menjelang kematian.
Fase pertama, individu menyangkal realitas kehidupan dan mungkin menarik diri, duduk tidak bergerak, atau menerawang tanpa tujuan. Hal tersebut mungkin dipandang oleh pengamat bahwa orang tersebut tidak menyadari apa makna kehilangan. Reaksi fisik dapat mencakup pingsan, berkeringat, mual, diare, frekuensi jantung cepat, gelisah, insomnia, dan keletihan.
Fase kedua adalah individu mulai merasa kehilangan secara tiba-tiba dan mungkin mengalami keputusasaan. Secara mendadak terjadi marah, rasa bersalah, frustasi, depresi dan kehampaan. Menangis adalah khas sejalan dengan individu menerima kehilangan.
Fase ketiga, dikenali realitas kehilangan. Marah dan depresi tidak lagi dibutuhkan. Kehilangan telah jelas bagi individu, yang mulai mengenali hidup. Dengan mengalami fase ini seorang beralih dari tingkat fungsi emosi dan intelektual yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Berkembang kesadaran diri.

b. Tahapan Menjelang Ajal Menurut Kubler-Ross
Kerangka kerja yang diberikan oleh Kebler-Ross (1969) berfokus pada perilaku dan mencakup lima tahapan.
1.Pada tahap menyangkal individu bertindak seperti tidak terjadi sesuatu dan dapat menolak untuk mempercayai bahwa telah terjadi kehilangan.
2.Pada tahap marah individu melawan kehilangan dan dapat bertindak pada seseorang dan segala sesuatu dilingkungan sekitarnya.
3.Pada tahap tawar menawar terdapat penundaan realitas kehilangan. Individu mungkin berusaha membuat perjanjian dengan cara yang halus atau jelas untuk mencegah kehilangan.
4.Tahap depresi terjadi ketika kehilangan disadari dan timbul dampak nyata dari makna kehilangan tersebut timbul. Seseorang merasa terlalu sangat kesepian dan menahan diri. Tahap ini memberi kesempatan untuk berupaya melewati kehilangan dan mulai memecahkan masalah.
5.Dan pada tahap terakhir ini dicapai suatu penerimaan. Reaksi fisiologis menurun, dan interaksi sosial berlanjut. Kubler-Ross mendefinisikan penerimaan lebih sebagai menghadapi situasi ketimbang menyerah untuk pasrah atau pututs asa.

c. Fase Berduka Menurut Rando
Rando (1993) mendefinisikan kembali respon berduka menjadi tiga kategori, yaitu :
1.Penghindaran, dimana terjadi syok, menyangkal dan ketidakpercayaan.
2.Konfrontasi, dimana terjadi luapan emosi yang sangat tinggi ketika klien secara berulang melawan kehilangn mereka dan kedukaan mereka paling dalam dan dirasakan palinga kaut.
3.Akomodasi, ketika terdapat secara bertahap penurunan kedudukan akut dan mulai memasuki kembali secara emosional dan social dunia sehari-hari dimana klien belajar untuk menjalani hidup dengan kehilangan mereka.

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN DUKA CITA
Selama pengkajian perawat tidak boleh berasumsi tentang bagaimana atau bila klien atau keluarganya mengalami duka cita. Perawat harus mnghindari membuat asumsi bahwa perilaku tertentu menandakan dukacita, sebailknya perawat harus memberi kesempatan kepada klien untuk menceritakan apa yang sedang terjadi dengan cara mereka sendiri. Perawat mengkaji bagaimana klien bereaksi dan bukan bagaimana klien seharusnya bereaksi.
Beberapa faktor yang mempengaruhi cara setiap individu merespon kehilangan, yaitu:
1.Karakteristik personal, termasuk usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, dan pendidikan mempengaruhi respon terhadap kehilangan.
2.Sifat hubungan dengan objek yang hilang.
3.Karakteristik kehilangan
4.Keyakinan kultural dan spiritual
5.Sistem pendukung
6.Potensi pencapaian tujuan mempngaruhi respons terhadap kehilangan
Perawat mengumpulkan data untuk membuat diagnose keperawatan mengenai duka cita atau reaksi klien terhadap duka cita. Mengelompokkan perilaku klien dan keluarganya, kehilangan aktual atau potential (seperti kehilangan orang terdekat) dan data yang mencakup kehilangan (seperti penyakit fatal) mengarah kepada diagnosa keperawatan yang sifatnya individual. Mengidentifikasi batasan karakteristik yang membentuk dasar untuk diagnosa akurat juga mengembangkan interverensi dalam rencana perawatan.
Perilaku yang menandakan dukacita maladaftif termasuk yang berikut ini :
1.Aktivitas berlebihan tanpa rasa kehilangan.
2.Perubahan dalam hubungan dengan teman dan keluarga.
3.Bermusuhan terhadap orang tertentu.
4.Depresi agitasi dengah ketegangan, agitasi, insomnia, perasaan tidak berharga, rasa bersalah yang berlebihan dan kecendrungan untuk bunuh diri.
5.Hilang keikutsertaan dalam aktivitas keagamaan dan ritual yang berhubungan dengan budaya klien.
6.Ketidakmampuan untuk mendiskusikan kehilangan tanpa menangis (terutama lebih dari satu tahun setelah terjadi kehilangan).
7.Rasa sejahtera yang salah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar