Rabu, 09 November 2011

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HIV/AIDS

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HIV/AIDS

A. PENGKAJIAN DAN MASALAH KEPERAWATAN
Perjalanan klinis pasien dari tahap terinfeksi HIV sampai tahap AIDS sejalan dengan penurunan derajat imunitas pasien, terutama imunitas seluler. Penurunan imunitas biasanya diikuti oleh adanya peningkatan risiko dan derajat keparahan infeksi oportunistik serta penyakit keganasan.

Tabel 2.1 Pengelompokkan masalah keperawatan klien HIV/AIDS (menurut teori Adaptis)
Masalah Fisik Masalah Psikis Masalah Sosial Masalah Ketergantungan
1. Sistem pernapasan: Dispnea, TBC, dan Pneumonia.
2. Sistem pencernaan: Nausea-Vomiting, diare, Dysphagia, dan BB turun 10 persen/3 bulan.
3. Sistem persarafan: letargi, nyeri sendi, dan ensefalopati.
4. Sistem integumen: edema yang disebabkan Kaposis Sarcoma, lesi di kulit atau mukosa, dan alergi.
5. Lain-lain:demam, dan resiko menularkan. 1. Integritas ego: perasaan tidak berdaya/ putus asa.
2. Faktor stres: baru/lama
3. Respon psikologis: menyang-kal, marah, cemas, dan mudah tersinggung 1. Perasaan minder dan tidak berguna di masyarakat
2. Interaksi sosial: perasaan terisolasi/ ditolak. Perasaan membutuhkan pertolongan orang lain.

Terjadinya penurunan imunitas dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang perlu diperhatikan oleh tenaga kesehatan adalah stessor psikososial. Reaksi pertama kali yang menunjukkan setelah seseorang didiagnosis mengidap HIV adalah penolakan dan terkejut/syok atau tidak percaya. Pasien beranggapan bahwa sudah tidak ada harapan lagi dan HIV merupakan penderitaan sepanjang hidup mereka.

B. DIAGNOSIS KEPERAWATAN PADA KLIEN HIV AIDS
Pada pasien dengan HIV/AIDS, bisa ditemukan beberapa diagnosis keperawatan dan masalah kolaboratif, antara lain:
1. Risiko komplikasi/infeksi sekunder.
2. Wasting syndrome, sarkoma kaposi, dan limfoma.
3. Miningitis, infeksi oportunistik (misalnya kandidiasis, Sitomegalovirus, Herpes, Pneumocystis carini pneumonia).
Menurut NANDA (North America Nursing Diagnosis) Internasional Taksonomi II, diagnosis keperawatan yang kemungkinan ditemukan pada pasien dengan HIV/AIDS antara lain:
1. Intoleransi aktivasi. Hal ini berhubungan dengan kelemahan, kelelahan, efek samping pengobatan, demam, malnutrisi, dan gangguan pertukaran gas (sekunder terhadap infeksi paru atau keganasan).
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif. Hal ini berhubungan dengan penurunan energi, kelelahan, infeksi respirasi, sekresi trakeobronkial, keganasan paru, dan pneumotoraks.
3. Kecemasan, adalah hal berhubungan dengan prognosis yang tidak jelas, persepsi tentang efek penyakit, dan pengobatan terhadap gaya hidup.
4. Gangguan gambaran diri. Hal ini berhubungan dengan penyakit kronis, alopesia, penurunan berat badan, dan gangguan seksual.
5. Ketegangan peran pemberi perawat (aktual atau resiko) berhubungan dengan keparahan penyakit penerima perawatan, tahap penyakit yang tidak dapat diprediksi atau ketidakstabilan dalam perawatan kesehatan penerima perawatan, durasi perawatan yang diperlukan, lingkungan fisik yang tidak adekuat untuk menyediakan perawatan, kurangnya waktu santai dan rekresi bagi pemberi perawatan, serta kompleksitas dan jumlah tugas perawatan.
6. Konfusi (akut atau kronis) berhubungan denagan infeksi susunan saraf pusat (misalnya toksoplasmosis), infeksi sitomegalovirus, limfoma, dan perkembangan HIV.
7. Koping keluarga berkaitan dengan ketidakmampuan untuk berhubungan dengan informasi atau pemahaman yang tidak adekuat atau tidak tepat tentang penyakit kronis, dan perasaan yang tidak terselesaikan secara kronis.
8. Koping tidak efektif berhubungan dengan kerentanan individu dalam situasi krisis (misalnya penyakit terminal).
9. Diare, berhubungan dengan pengobatan, diet, dan infeksi.
10. Kurang aktifitas pengalihan, berhubungan dengan sering atau lamanya pengobatan medis, perawatan di rumah sakit dalam waktu yang lama, bed rest yang lama.
11. Kelelahan berhubungan dengan proses penyakit serta kebutuhan psikologis dan emosional yang sangat banyak.
12. Takut, berhubungan dengan ketidakberdayaan, ancaman yang nyata terhadap kesejahteraan diri sendiri, kemungkinan terkucilkan, dan kemungkinan kematian.
13. Volume cairan kurang, berhubungan dengan asupan cairan yang tidak adekuat sekunder terhadap lesi oral dan diare
14. Berduka disfungsional/diantisipasi, berhubungan dengan: kematian atau perubahan gaya hidup yang segera terjadi, kehilangan fungsi tubuh, perubahan penampilan, dan ditinggal mati oleh orang yang berarti (orang terdekat).
15. Perubahan pemeliharaan rumah, berhubungan dengan sistem pendukung yang tidak adekuat, kurang pengetahuan, dan kurang akrab dengan sumber-sumber komunitas.
16. Keputusasaan, berhubungan dengan perubahan kondisi fisik dan prognosis yang buruk.
17. Resiko infeksi berhubungan dengan imunodefisiensi.
18. Resiko penyebaran infeksi (bukan diagnosis NANDA) faktor risiko; sifat cairan tubuh yang menular.
19. Resiko injuri (jatuh), berhubungan dengan kelelahan, kelemahan, perubahan kognitif, ensefalopati, dan perubahan neuromuskular.
20. Pengelolaan pengobatan yang tidak efektif, berhubungan dengan kompleksitas bahan-bahan pengobatan, kurang pengetahuannya tentang penyakit, obat dan sumber komunitas, depresi, sakit atau malaise.
21. Ketidakseimbangan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh), berhubungan dengan kesulitan menguyah, kehilangan nafsu makan, lesi oral dan esofagus, malabsorbsi gastrointestinal, dan infeksi oportunistik (kandidiasis dan herpes).
22. Nyeri akut, berhubungan dengan:perkembangan penyakit, efek samping pengobatan, odem limfe, sakit kepala sekunder terhadap infeksi SSP, neuropati perifer, dan mialgia parah.
23. Ketidakberdayaan, berhubungan dengan penyakit terminal, bahan pengobatan, dan perjalanan penyakit yang tidak bisa diprediksi.
24. Kurang perawatan diri yang terdiri atas berhias, toileting, instrumental, makan/minum, dan mandi, berhubungan dengan penurunan kekuatan dan ketahanan, intoleransi aktivitas, dan kebigungan akut/kronis.
25. Harga diri rendah (kronis dan situasional) berhubungan dengan penyakit kronis dan krisis situasional.
26. Perubahan persepsi sensori (pendengaran/penglihatan), berhubungan dengan kehilangan pendengaran sekunder efek pengobatan, kehilangan penglihatan akibat infeksi CMV.
27. Pola seksual tidak efektif, berhubungan dengan tindakan seks yang lebih aman, takut terhadap penyebaran infeksi HIV, tidak berhubungan seks, impoten sekunder akibat efek obat.
28. Kerusakan integritas kulit, berhubungan dengan kehilangan otot dan jaringan sekunder akibat perubahan status nutrisi, ekskoriasi perineum sekunder akibat diare dan lesi (kadidiasis dan herpes), dan kerusakan mobilitas fisik.
29. Perubahan pola tidur, berhubungan dengan nyeri, berkeringat di malam hari, obat-obatan, efek samping obat, kecemasan, depresi, dan putus obat (heroin, kokain).
30. Isolasi sosial, berhubungan dengan stigma, ketakutan oran lain terhadap penyebaran infeksi, ketakutan diri sendiri terhadap penyebaran HIV, moral, budaya, agama, penampilan fisik, serta gangguan harga diri dan gambaran diri.

C. RESPON SPESIFIK PADA PENDERITA HIV/AIDS
Selain berdasarkan diagnosis keperawatan, terdapat tanda-tanda lain pada penderita HIV/AIDS. Mereka umumnya memiliki respon yang spesifik yakni:
1. Respons biologi (imunitas)
Secara imunologis, sel T yang terdiri atas limfosit T-helper, disebut limfosit CD4+ akan mengalami perubahan baik secara kuantitas maupun kualitas. HIV menyerang CD4+ baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, sampul HIV yang mempunyai efek toksik akan menghambat fungsi sel T (toxic HIV). Secara tidak langsung, lapisan luar protein HIV yang disebut sampul gp 120 dan anti p24 berinteraksi dengan CD4+ yang kemudian menghambat aktifitas sel yang mempresentasikan antigen (APC). Setelah HIV melekat melalui reseptor CD4+ dan ko-reseptornya, bagian sampul tersebut melakukan fusi dengan membran sel dan bagian intinya masuk ke dalam sel membran. Pada bagian ini terdapat enzim reverse transcriptase yang terdiri atas DNA polimerase dan ribonuklease. Pada inti yang mengandung RNA, enzim DNA polimerase menyusun kopi DNA dari RNA tersebut. Enzim ribonuklease memusnahkan RNA asli. Enzim polimerase kemudian membentuk kopi DNA kedua dari DNA pertama yang tersusun sebagai cetakan.
Kode genetik DNA berupa untai ganda setelah terbentuk, maka akan masuk ke intisel. Kemudian oleh enzim integrase, DNA copy dari virus disisipkan dalam DNA pasien. HIV provirus yang berada pada limfosit CD4+ mengalami sitolisis
Virus HIV yang berhasil masuk dalam tubuh pasien, juga menginfeksi berbagai macam sel, terutama monosit, makrofag, sel- sel mikroglia di otak, sel-sel hobfour plasenta, sel-sel dendrite pada kelenjar limfe, sel-sel epitel pada usus, dan sel langerhans di kulit. Efek infeksi pada sel mikroglia di otak adalah ensefalopati dan pada sel epitel usus adalah diare yang kronis.
Gejala-gejala klinis yang ditimbulkan akibat infeksi tersebut biasanya baru disadari pasien setelah beberapa waktu lamanya tidak mengalami kesembuhan. Pasien yang terinfeksi virus HIV dapat tidak memperlihatkan tanda dan gejala selama bertahun-tahun. Sepanjang perjalanan penyakit tersebut sel CD4+ mengalami penurunan 1000/ sebelum terinfeksi menjadi sekitar 200-300/ setelah terinfeksi 2-10 tahun.
2. Respons Adaftif Psikososial-Spiritual
a. Respons Adaptif Psikologis (Penerimaan Diri)
Pengalaman mengalami suatu penyakit akan membangkitkan berbagai perasaan dan reaksi stress, frustasi, kecemasan, kemarahan, penyangkalan, rasa malu, berduka, dan ketidakpastian dengan adaptasi terhadap penyakit.
Tahapan reaksi psikologis pasien HIV adalah terlihat seperti table berikut:

Tabel 2.1 reaksi psikologi pasien HIV
Reaksi Proses psikologis Hal – hal yang biasa dijumpai
1) Shock (kaget, goncangan batin) Merasa bersalah, marah dan tidak berdaya Rasa takut, hilang akal, frustasi, rasa sedih, susah, acting out
2) Mengucil-kan diri Merasa cacat, tidak berguna dan menutup diri Khawatir menginfeksi orang lain, murung
3) Membuka status secara terbatas Ingin tahu reaksi orang lain, pengalihan stress, ingin dicintai Penolakan, stress dan konfrontasi
4) Mencari orang lain yang HIV positif Berbagi rasa, pengenalan, kepercayaan, penguatan, dan dukungan sosial Ketergantungan, campur tangan, tidak percaya pada pemegang rahasia dirinya
5) Status khusus Perubahan keterasingan menjadi manfaat khusus, perbedaan menjadi hal yang istimewa, dibutuhkan oleh yang lainnya Ketergantungan, dikotomi kita dan mereka (semua orang dilihat sebagai terinfeksi HIV dan direspons seperti itu), over indentification
6) Perilaku mementing-kan orang lain Komitmen dan kesatuan kelompok, kepuasaan memberi dan membagi, perasaan sebagai kelompok Pemadaman, reaksi, dan kompensasi yang berlebihan,
7) Penerimaan Integrasi status positif HIV dengan identitas diri, keseimbangan antara kepentingan orang lain dengan diri sendiri, bisa menyebutkan kondisi seseorang Apatis dan sulit berubah

b. Respons Psikologis (Penerimaan Diri) Terhadap Penyakit
Kubler ‘Ross (1974) menguraikan lima tahap reaksi emosi seseorang terhadap penyakit, yaitu:
1) Pengingkaran (Denial)
Pada tahap pertama, pasien menunjukkan karakteristik perilaku pengingkaran, mereka gagal memahami dan mengalami makna rasional dan dampak emosional dari diagnosis. Pengingkaran ini dapat disebabkan karena ketidaktahuan pasien terhadap penyakitnya atau sudah mengetahui dan mengancam dirinya. Pengingkaran dapat dinilai dari pengucapan pasien “saya di sini istirahat”. Pengingkaran dapat berlaku sesuai dengan kemungkinan memproyeksikan pada apa yang diterima bahwa alat yang tidak berfungsi dengan baik, kesalahan laboratorium, atau lebih mungkin perkiraan dokter atau perawat tidak kompeten.
2) Kemarahan (Anger)
Apabila pengingkaran tidak dapat dipertahankan lagi, maka fase pertama berubah menjadi marah. Perilaku pasien secara karakteristik dihubungkan dengan marah dan rasa bersalah. Pasien akan mengalihkan kemarahannya pada sesuatu yang ada di sekitarnya. Biasanya kemarahan diarahkan kepada dirinya sendiri dan akan timbul penyesalan. Yang menjadi sasaran utama kemarahan adalah perawat. Semua tindakan perawat menjadi serba salah. Pasien banyak menuntut, cerewet, cemberut, tidak bersahabat, kasar, menantang, tidak mau bekerja sama, sangat marah, mudah tersinggung meminta banyak perhatian dan iri hati.
3) Sikap Tawar Menawar (Bargaining)
Setelah fase marah-marah berlalu, pasien akan berfikir dan merasakan protesnya tidak akan berarti. Pasien mulai merasa bersalah dan memulai berhubungan dengan Tuhan. Pasien berdoa, meminta dan berjanji pada Tuhan, tindakan ini merupakan ciri yang jelas, yaitu pasien menyanggupi menjadi lebih baik lagi jika dia dapat sembuh.
4) Depresi
Selama fase ini pasien sedih/berkabung mengesampingkan rasa marah dan sikap pertahanannya, serta mulai mengatasi kehilangan secara konstruktif. Pasien mencoba perilaku yang baru yang konsisten dengan keterbatasan baru. Tingkat emosional adalah kesedihan, tidak berdaya, tidak ada harapan, bersalah, penyesalan yang dalam, kesepian, dan waktu untuk menangis berguna pada saat ini.
5) Penerimaan dan Partisipasi
Seiring dengan berlalunya waktu pasien mulai dapat beradaptasi, kepedihan yang menyakitkan berkurang, dan bergerak menuju indentifikasi sebagai seseorang yang memiliki keterbatasan karena penyakitnya dan sebagai seseorang yang cacat.

c. Respons Adaptif Spiritual
Respon adaptif spiritual dikembangkan dari konsep Ronaldson dan Kauman dan Nipan. Respon adiktif spiritual, meliputi:
1) Harapan yang realistis
2) Tabah dan sabar
3) Pandai mengambil hikmah

d. Respons Adaptif Sosial
Aspek psikososial menurut Stewart (1997) dibedakan menjadi 3 hal yaitu:
1) Stigma sosial dapat memperparah depresi dan pandangan negatif tentang harga diri pasien.
2) Diskriminasi terhadap orang yang terinfeki HIV, misalnya penolakan bekerja dan hidup serumah juga akan berpengaruh terhadap kondisi kesehatan. Bagi pasien homoseksual, penggunaan obat-obat narkotika akan berakibat terhadap kurangnya dukungan sosial, hal ini akan memperparah stress pasien.
3) Terjadinya waktu yang lama terhadap respons psikologis mulai penolakan, marah-marah, tawar menawar, dan depresi berakibat terhadap keterlambatan upaya pencegahan dan pengobatan. Pasien akhirnya mengkonsumsi obat-obat terlarang untuk menghilangkan stress yang dialami.
Respon adaptif sosial dikembangkan peneliti berdasarkan konsep dari Pearlin dan Aneshense (1986) meliputi tiga hal, yakni :
1) Emosi
2) Cemas
3) Interaksi sosial

D. INTERVENSI KEPERAWATAN PASIEN TERINFEKSI HIV (PHIV)
Prinsip Asuhan Keperawatan PHIV untuk mengubah perilaku ketika berada dalam masa perawatan dan dalam rangka meningkatkan respons imunitas PHIV melalui pemenuhan kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual dilakukan oleh perawat agar dapat menurunkan stressor. Pada bagian ini akan diuraikan tentang (1) Konsep pendekatan asuhan keperawatan di rumah dan (2) Asuhan keperawatan pada respons biologis, psikologis, sosial, dan spiritual.
Perawat memiliki peran penting dalam asuhan keperawatan pasien HIV/AIDS. Ada dua hal penting yang harus dilakukan perawat yakni:
1. Memfasilitasi strategi koping
a. Memfasilitasi sumber penggunaan potensi diri agar terjadi respons penerimaan sesuai tahapan dari Kubler-Ross.
b. Teknik perilaku, dapat berupaya untuk membantu penyelesaian masalah, memberikan harapan yang realistis, dan mengingatkan pasien agar pandai mengambil hikmah.
c. Teknik perilaku, dilakukan dengan cara mengajarkan perilaku yang mendukung kesembuhan, seperti: kontrol dan minum obat teratur, konsumsi nutrisi seimbang, istirahat dan aktifitas teratur, dan menghindari konsumsi atau tindakan yang dapat menambah parah sakitnya.
2. Dukungan sosial
1. Dukungan emosional, agar pasien merasa nyaman, dihargai, dicintai dan diperhatikan.
2. Dukungan informasi, untuk meningkatkan pengetahuan dan penerimaan pasien terhadap sakitnya.
3. Dukungan material, untuk bantuan/kemudahan akses dalam pelayanan kesehatan pasien.

E. ASUHAN KEPERAWATAN RESPONS BIOLOGIS (ASPEK FISIK)
1. Pemberian ARV/anti retroviral dan obat anti infeksi sekunder
Penggunaan obat ARV kombinasi:
a. Manfaat penggunaan obat dalam bentuk kombinasi adalah:
1) Memperoleh khasiat yang lebih lama untuk memperkecil kemungkinan terjadinya resistensi.
2) Meningkatkan efektivitas dan lebih menekan aktifitas virus. Bila timbul efek samping, bisa diganti dengan obat lainnya, dan bila virus mulai resisten terhadap obat yang sedang digunakan bisa memakai kombinasi lain.
b. Efektivitas obat ARV kombinasi:
1) ARV kombinasi lebih efektif karena mempunyai khasiat ARV yang lebih tinggi dan menurunkan viral load lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan satu jenis obat saja.
2) Kemungkinan terjadinya resistensi virus kecil, akan tetapi bila pasien lupa minum obat dapat menimbulkan terjadinya resistensi.
3) Kombinasi menyebabkan dosis masing-masing obat lebih kecil, sehingga kemungkinan efek samping lebih kecil.


c. Saat memulai menggunakan ARV
Menurut WHO (2002), penggunaan ARV bisa dimulai pada orang dewasa berdasarkan kriteria sebagai berikut:
1) Bila pemeriksaan CD4 bisa dilakukan pada:
a) Pasien stadium IV (menurut WHO), tanpa memperhatikan hasil tes CD4.
b) Pasien stadium I, II, III (menurut WHO) dengan hasil perhitungan limfosit total <200/µl (Yayasan Kerti Praja, 1992).
2) Bila pemeriksaan CD4 tidak dapat dilakukan:
a) Pasien stadium IV (menurutWHO), tanpa memperhatikan hasil hitung limfosit total.
b) Pasien stadium I, II, III (menurut WHO) dengan hasil perhitungan limfosit total <1000-1200/µl.
3) Limfosit total <1000-1200/µl dapat diganti dengan CD4 dan dijumpai tanda-tanda HIV. Hal ini kurang penting pada pasien tanpa gejala (stadium I menurut WHO) dan hendaknya jangan dilakukan pengobatan terlebih dahulu karena belum ada petunjuk tentang beratnya penyakit.
4) Pengobatan juga dianjurkan untuk pasien stadium III lanjut, termasuk kambuh, luka pada mulut yang sukar sembuh, dan infeksi pada mulut yang berulang dengan tidak memerhatikan hasil pemeriksaan CD4 dan limfosit total.
d. Cara memilih obat
1) Pertimbangan dalam memilih obat adalah hasil pemeriksaan CD4, viral load, dan kemampuan pasien mengingat penggunaan obatnya. Pertimbangan yang baik ialah memilih obat berdasarkan jadwal kerja dan pola hidup.
2) Kebanyakan orang lebih banyak mengingat obat yang diminum sewaktu makan.

e. Efek samping obat
1) Efek samping jangka pendek adalah : mual, muntah diare, sakit kepala, lesu, dan susah tidur. Efek samping ini berbeda beda pada setiap orang, jarang semua pasien mengalami efek samping tersebut. Efek samping jangka pendek terjadi langsung setelah minum obat dan berkurang setelah beberapa minggu. Selama beberapa minggu penggunaan ARV, diperbolehkan minum obat lain untuk mengurangi efek samping.
2) Efek samping jangka panjang ARV belum banyak diketahui.
3) Efek samping pada wanita: efek samping pada wanita lebih berat dari pada laki-laki salah satu cara mengatasinya adalah dengan menggunakan dosis yang lebih kecil. Beberapa wanita melaporkan menstruasi lebih berat dan sakit atau lebih panjang dari biasanya, namun ada juga wanita yang berhenti sama sekali menstruasinya. Mekanisme ini belum diketahui secara jelas.
f. Kepatuhan minum obat
1) Kepatuhan terhadap pemakaian obat membantu mencegah terjadinya resistensi dan dapat menekan virus secara terus menerus.
2) Diet penting untuk mengingat minum obat :
a) Minumlah obat pada waktu yang sama setiap hari.
b) Harus selalu tersedia obat di tempat manapun biasanya pasien berada, misalnya di kantor, di rumah, dan lain-lain.
c) Bawa obat kemanapun pergi (dikantong, tas, dll asal tidak memerlukan lemari es).
d) Pergunakan peralatan (jam, hp yang berisi alarm yang bisa diatur agar berbunyi setiap waktunya minum obat)

2. Pemberian suplemen (TKTP, multivitamin, dan anti oksidan)
Pasien dengan HIV/AIDS (ODHA) sangat membutuhkan vitamin dan mineral dalam jumlah yang lebih banyak dari yang biasanya yang diperoleh dalam makanan sehari-hari. Sebagian besar ODHA akan mengalami defiesiensi vitamin sehingga memerlukan makanan tambahan.
Dalam beberapa hal, HIV sendiri akan mengalami perkembangan lebih cepat. Pada ODHA yang mengalami defisiensi vitamin dan mineral. Kondisi tersebut sangat berbahaya pada ODHA yang mengalami defisiensi vitamin dan mineral. Vitamin dan mineral juga berfungsi untuk meningkatkan kemampuan tubuh dalam melawan berkembanganya HIV dalam tubuh.
HIV menyebabkan hilangnya nafsu makan dan gangguan penyerapan nutrisi. Hal ini berhubungan dengan menurunnya atau habisnya cadangan vitamin dan mineral dalam tubuh. Defisiensi vitamin dan mineral pada ODHA dimulai sejak stadium dini. Walaupun jumlah makan ODHA sudah cukup dan berimbang seperti orang sehat, tetapi akan tetap terjadi defisiensi vitamin dan mineral.
Berdasarkan beberapa hal tersebut, selain mengkonsumsi dalam jumlah yang tinggi, dalam ODHA juga harus mengonsumsi suplemen atau nutrisi tambahan. Pemberian nutrisi tambahan bertujuan agar beban ODHA tidak bertambah akibat defisiensi vitamin dan mineral.

3. Istirahat dan relaksasi
a. Manfaat olahraga terhadap imunitas tubuh
Hampir semua organ merespon stres olahraga. Pada keadaan akut, olahraga akan berefek buruk pada kesehatan, sebaliknya, olahraga yang dilakukan secara teratur menimbulkan adaptasi pada organ tubuh yang berefek menyehatkan.
Olahraga yang dilakukan secara teratur menghasilkan perubahan pada jaringan, sel, dan protein pada sistem imun.
b. Pengaruh latihan fisik terhadap tubuh.
1) Perubahan sistem sirkulasi
Olahraga meningkatkan cardiac output dari 5L /menit menjadi 20L/menit pada dewasa sehat. Hal ini menyebabkan peningkatan darah ke otot skelet dan jantung.
Latihan yang teratur meningkatkan adaptasi pada sistem sirkulasi, meningkatkan volume dan masa ventrikel kiri. Hal ini berdampak pada peningkatan sekuncup dan cardiac output sehingga tercapai kapasitas kerja yang maksimal.
2) Sistem pulmonal
Olahraga meningkatkan frekuensi nafas, meningkatkan pertukaran gas serta pengangkutan oksigen, dan penggunaan oksigen oleh otot.
3) Metabolisme
Untuk melakukan olahraga, otot memerlukan energi. Pada olahraga intensitas rendah sampai sedang terjadi pemecahan trigliserida dan jaringan adipose menjadi glikogen dan FFA (Free Fatty Acid). Pada olahraga intensitas tinggi kebutuhan energi meningkat, otot semakin tergantung glikogen sehingga metabolism berubah aerob menjadi anaerob. Metabolisme aerob menjadi anaerob.
Metabolisme anaerob menghasilkan 2 ATP dan asam laktat yang menurunkan kerja otot. Pada saat olahraga tubuh meningkatkan glukosa ambilan glukosa darah, untuk mencegah hipoglikemia. Tubuh meningkatkan glikonelisis dan glukoneogenesis hati untuk mempertahankan gula darah normal.
Olahraga berlebihan menyebabkan hipernatremia karena banyak cairan isotonis yang keluar bersama keringat, serta hiperkalemia karena kalium banyak dilepas dari otot. Selain itu juga bisa terjadi dehidrasi dan hiporosmolaritas

4. Perawatan infeksi sekunder (ISPA, herpes dan nyeri sendi)
Kepada pasien dan orang yang merawatnya diminta untuk memantau tanda–tanda serta gelaja infeksi. Tanda–tanda ini mencakup gejala demam/panas, menggigil, keringat malam, batuk dengan atau tanpa produksi sputum, napas yang pendek, kesulitan bernapas, rasa sakit pada mulut atau kesulitan menelan, bercak – bercak putih dalam rongga mulut, penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya, kelenjar limfe yang membengkak, mual, muntah, diare persisten, sering berkemih, sulit untuk mulai dan nyeri saat berkemih, sakit kepala, perubahan visual dan penurunan daya ingat, kemerahan, pembengkakkan atau pengeluaran sekret dari luka pada kulit, dan lesi vaskuler pada wajah, bibir atau daerah perianal. Perawat juga harus memantau hasil lab yang menunjukkan hasil infeksi, seperti hitungan leokosit den hitung jenis. Dokter dapat memutuskan untuk melakukan pemeriksaan kultur spesimen dari sekitar luka, lesi kulit, urine, feses, sputum, mulut serta darah untuk mengidentifikasi mikroorganisme patogen dan terapi anti mikroba yang paling tepat.
Penyuluhan pasien mencakup strategi untuk menghindari infeksi. Pentinganya hygienis perorangan harus ditekan. Permukaan dapur dan kamar mandi jari dibersihkan secara teratur dengan larutan disinfektan untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur. Pasien yang di rumahnya terdapat hewan peliharaan memerlukan bantuan orang lain unruk membersihkan tempat–tempat yang tercemar kotoran hewan tersebut, seperti sangkar burung dan tempat sampah. Jika pekerjaan ini tidak mungkin dilakukan orang lain, pasien harus mengenakan sarung tangan untuk membersihkannya. Pasien juga harus dinasehati untuk menghindari kontak dengan orang lain yang sakit atau yang baru saja di vaksinasi. Penderita AIDS dan pasangan seksualnya diharuskan sekali untuk menghindari kontak dengan cairan tubuh pasangannya selama melakukan aktivitas seksual dan menggunakan kondom pada segala bentuk hubungan seks. Pemakaian obat IV harus dilarang karena terdapatnya risiko infeksi bagi pasien dan penularan infeksi HIV kepada orang lain. Pasien yang sudah terinfeksi oleh virus HIV juga diharuskan untuk menghindari kontak dengan cairan tubuh (lewat aktivitas seksual atau pemakaian obat IV) agar tidak terjadi infeksi dengan strain HIV yang lain. Pentingnya menghindari rokok dan mempertahankan keseimbangan antara diet, istirahat dan latihan juga harus ditekankan. Semua professional kesehatan harus selalu ingat tentang pentingnya tehknik aseptik yang ketat ketika mengerjakan prosedur yang invasif seperti pemasangan infus serta kateter urine, dan selalu memperhatikan tindakan penjagaan universal dalam semua perawatan pasien.

F. ASUHAN KEPERAWATAN RESPONS ADAPTIF PSIKOLOGIS (STRATEGI KOPING)
Mekanisme koping adalah mekanisme yang digunakan individu untuk menghadapi perubahan yang diterima. Apabila mekanisme koping berhasil, maka orang tersebut akan dapat beradaptasi terhadap yang perubahan yang terjadi. Mekanisme koping dapat dipelajari, sejak awal timbulnya stressor sehingga individu tesebut dapat menyadari dampak dari stressor tersebut.
Mekanisme koping terbentuk melalui proses belajar dan mengingat. Belajar dimaksud adalah kemampuan menyesuaikan diri (adaptasi) pada pengaruh faktor ekternal dan internal. Belajar implisi umumnya bersfat reflektif dan tidak memerlukan kesadaran (vokal). Keadaan ini ditemukan pada perilaku dan kebiasaan. Pada habituasi timbul suatu hubungan dari transmisi sinaps pada neuron sensoris pada akibat penurunan jumlah neurotransmitter yang berkurang yang dilepas dari terminal presinaps. Sensitifitas sifatnya lebih kompleks dari habituasi, mempunyai potensial jika panjang (beberapa menit sampai beberapa minggu).
Koping yang efektif menempati tempat yang sentral terhadap ketahanan tubuh dan daya penolakan tubuh terhadap gangguan maupun seragan suatu penyakit baik bersifat fisik maupun psikis, sosial spiritual.
Lipowski membagi koping dalam dua bentuk, yaitu koping style dan koping stategi. Koping style merupakan mekanisme adaptasi individu meliputi mekanisme psikologis dan mekanime kognitif dan persepsi. Sifat dasar koping style adalah mengurangi makna suatu konsep yang dianutnya, misalnya penolakan atau pengingkaran yang bervariasi yang tidak realistis atau berat (psikosis hingga pada tingkatan yang sangat ringan saja terhadap suatu keadaan).
Koping stategi merupakan koping yang digunakan individu secara sadar dan terarah dalam mengatasi sakit atau stressor yang dihadapinya
1. Strategi koping (cara penyelesaian masalah)
Beradaptasi terhadap penyakit memerlukan berbagai strategi tergantung ketrampilan koping yang bisa digunakan dalam menghadapi situasi sulit. Menurut Mooss, 1984 yang dikutip Brunner dan Studart (2002) menguraikan 7 koping yang negatif kategori keterampilan, yakni :
a. Koping yang negatif
1) Penyangkalan (Avoidance). Penyangkalan meliputi penolakan untuk menerima atau menghargai keseriusan penyakit.
2) Menyalahkan diri sendiri (self blame). Koping ini muncul sebagai reaksi terhadap suatu keputusasaan. Pasien merasa bersalah dan semua yang terjadi akibat dari perbuatannya.
3) Pasrah (Wishfull thinking). Pasien merasa pasrah terhadap masalah yang menimpanya, tanpa adanya usaha dan motivasi untuk menghadapi.
b. Mencari informasi
Keterampilan koping dalam mencari informasi mencakup:
1) Mengumpulkan informasi yang berkaitan dapat menghilangkan kecemasan akibat salah konsepsi dan ketidakpastian .
2) Menggunakan sumber intelektual secara efektif. Pasien sering merasa terhibur oleh informasi mengenai penyakit, pengobatan, dan perjalanan penyakit yang diperkirakan terjadi.

c. Meminta dukungan emosional
Kemampuan untuk mendapat dukungan emosional dari keluarga, sahabat, dan pelayanan kesehatan sangat penting dalam membantu memelihara rasa kemampuan diri, koping ini bermakna untuk meraih bantuan dari orang lain sehingga akan memelihara harapan melalui dukungan.
d. Pembelajaran perawatan diri
Belajar merawat diri sendiri menunjukan kemampuan dan efektifitas seseorang. Ketidakberdayaan seseorang akan berkurang karena rasa bangga dalam percepatan membantu memulihkan dan memelihara harga diri.
e. Menetapkan tujuan konkret
Keseluruhan tugas beradaptasi terhadap penyakit serius tampak membingungkan pada awalnya. Namun tugas tersebut dapat dikuasai dengan cara membagi-bagi tugas tersebut menjadi tujuan yang lebih kecil dan dapat ditangani akhirnya mengarah pada keberhasilan. Hal ini dapat dilaksanakan bila motivasi tetap dijaga dan perasaan tidak berdaya dikurangi.
f. Mengulangi hasil alternatif
Selalu saja ada alternatif dalam setiap situasi. Dengan memahami pilihan tersebut akan membantu pasien merasa berkurang ketidakberdayaanya. Dengan menggali pilihan tersebut bersama perawat dan keluarga akan membantu membuka realitas sebagai dasar untuk membuat keputusan selanjutnya. Koping ini membantu pasien mengurangi kecamasan dengan cara mempersiapkan hari esok dengan mengingat kembali bagaimana pasien mampu mengatasi kesulitan masa lalu dan meningkatkan percaya diri.
g. Menemukan makna dari penyakit
Penyakit merupakan satu pengalaman manusia, kebanyakan orang menganggap penyakit serius sebagai titik balik kehidupan mereka baik spiritual maupun fisiologis. Terkadang orang menemukan kepuasan dalam kepercayaan mereka bahwa pasien mungkin mempunyai makna atau berguna bagi orang lain.


2. Koping yang Positif (Teknik Koping)
Ada 3 teknik koping yang ditawarkan dalam mengatasi stress :
a. Pemberdayaan Sumber Daya Psikologis (Potensi Diri)
Sumber daya psikologi merupakan kepribadian dan kemampuan individu dalam memanfaatkannya menghadapi stress yang disebabkan situasi dan lingkungan. Karakteristik di bawah ini merupakan sumber daya psikologis yang penting.
1) Pikiran yang positif tentang dirinya (harga diri)
Jenis ini bermanfaat dalam mengatasi situasi stress, sebagaimana teori dari Colley’s looking-glass self: rasa percaya diri, dan kemampuan untuk mengatasi masalah yang dihadapi
2) Mengontrol diri sendiri
Kemampuan dan keyakinan untuk mengontrol tentang diri sendiri dan situasi (internal control) dan eksternal kontrol (bahwa kehidupannya dikendalikan oleh keberuntungan dan nasib dari luar) sehingga pasien akan mampu mengambil hikmah dari sakitnya. Kemampuan mengontrol diri akan dapat memperkuat koping pasien, perawat harus menguatkan kontrol dari pasien dengan melakukan tindakan untuk :
a) Membantu pasien mengidentifikasi masalah dan seberapa jauh dia dapat mengontrol diri.
b) Meningkatkan perilaku menyelesaikan masalah.
c) Membantu meningkatkan rasa percaya diri, bahwa pasien akan mendapatkan hasil yang lebih baik.
d) Memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengambil keputusan terhadap dirinya.
e) Mengitentifikasi sumber-sumber pribadi dan lingkungan yang dapat meningkatkan control diri: kenyakinan, agama.
b. Resionalisasi (Teknik kognitif)
Upaya memahami dan menginterprestasikan secara spesifik terhadap stress dalam mencari arti dan makna stress. Dalam menghadapi situasi stress, respons individu secara rasional adalah dia akan menghadapi secara terus menerus, mengabaikan, atau memberitahukan kepada diri sendiri dan semuanya akan berakhir dengan sendirinya. Sebagai orang berpikir bahwa setiap suatu kejadian akan menjadi sesuatu tantangan dalam kehidupan kegiatan spiritual, lebih mendekatkan dari kepada sang pencipta untuk mencari hikmah dan makna dari semua yang terjadi.
c. Tehnik Perilaku
Teknik perilaku dapat dipergunakan untuk membantu individu dalam mengatasi situasi stress. Beberapa individu melakukan kegaiatan yang bermanfaat dalam menunjang kesembuhannya. Misalnya, pasien HIV akan melakukan aktivitas yang dapat membantu peningkatan data tubuhnya dengan tidur secara teratur, makan seimbang, minum obat anti retroviral dan obat untuk infeksi sekunder secara teratur, tidur dan istirahat yang cukup, dan menghindari konsumsi obat-obatan yang memperparah keadaan sakitnya.

G. ASUHAN KEPERAWATAN RESPONS SOSIAL (KELUARGA DAN PEER GROUP)
Dukungan sosial sangat diperlukan terutama pada PHIV yang kondisinya sudah sangat parah. Individu yang termasuk dalam memberikan dukungan sosial meliputi pasangan (suami/istri), orang tua, sanak keluarga, teman, tim kesehatan, atasan, dan konselor.
1. Konsep Dukungan Sosial
Beberapa pendapat mengatakan bahwa dukungan sosial terutama dalam konteks hubungan yang akrab atau kualitas hubungan perkawinan dan keluarga barangkali merupakan sumber dukungan sosial yang paling penting.
2. Pengertian Dukungan Sosial
Sebagai satu diantara fungsi pertalian/ikatan sosial segi fungsionalnya mencakup dukungan emosional, mendorong adanya ungkapan perasaan, memberi nasehat atau informasi, pemberian bantuan material.
Sebagai fakta sosial yang sebenarnya sebagai/kognisi individual atau dukungan yang dirasakan melawan dukungan yang diterima. Dukungan sosial terdiri atas informasi atau nasehat verbal atau non verbal, bantuan nyata atau tindakan yang diberikan oleh keakraban sosial atau didapat karena kehadiran mereka dan mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku bagi pihak penerima.
3. Jenis Dukungan Sosial
Ada 4 jenis atau dimensi dukungan sosial menjadi:
a. Dukungan emosional
Mencakup ungkapan empati, kepedulian dan perhatian terhadap orang yang bersangkutan.
b. Dukungan penghargaan
Terjadi lewat ungkapan hormat/penghargaan positif untuk orang lain itu, dorongan maju atau persetujuan dengan gagasan atau individu, dan perbandingan positif orang itu dengan orang lain, misalanya orang itu kurang mampu atau lebih buruk keadannya (menambah harga diri).
c. Dukungan instrumental
Mencakup bantuan langsung misalnya orang memberi pinjaman uang kepada orang yang membutuhkan atau menolong dengan memberi pekerjaan pada orang yang tidak punya pekerjaan.
d. Dukungan informatif
Mencakup pemberian nasehat, saran, pengetahuan, dan informasi serta petunjuk.

4. Hubungan Dukungan Sosial dengan Kesehatan
Ada pengaruh dukungan sosial terhadap kesehatan, tetapi bagaimana hal itu terjadi? Penelitian terutama memusatkan pengaruh dukungan sosial pada stress sebagai variabel penengah dalam perilaku kesehatan dan hasil kesehatan. Dua teori pokok diusulkan, hipotesis penyangka (buffer hypotesis) dan hipotesis efek langsung (direct effect hypotesis).
Menurut hipotesis penyangka dukungan sosial mempengaruhi kesehatan dan melindungi orang itu terhadap efek negatif dari stress berat. Fungsi yang bersifat melindungi ini hanya atau terutama efektif jika orang itu mengalami stress yang kuat. Dalam stress yang rendah terjadi sedikit atau tidak ada penyangga bekerja. Orang–orang dengan dukungan sosial tinggi mungkin akan kurang menilai situasi penuh stres (mereka akan tahu bahwa mungkin ada seseorang yang dapat membantu mereka). Orang-orang dengan dukungan sosial tinggi akan merubah respon mereka terhadap sumber stres misalnya pergi keseorang teman untuk membicarakan masalahnya.
Hipotesis efek langsung berpendapat bahwa dukungan sosial itu bermanfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan, tidak peduli banyaknmya stress yang dialami orang-orang menurut hipotesis ini efek dukungan sosial yang positif sebanding di bawah intensitas stress tinggi dan rendah. Contohnya adalah orang-orang dengan dukungan sosial tinggi dapat memiliki penghargaan diri yang lebih tinggi yang membuat mereka tidak begitu mudah diserang stres.

5. Dukungan Sosial (Social Support)
Hampir setiap orang tidak mampu menyelesaikan masalah sendiri, tetapi mereka memerlukan bantuan orang lain. Berdasarkan hasil penelitian bahwa dukungan sosial memerlukan mediator yang penting dalam menyelesaikan masalah seseorang. Hal ini karena individu merupakan bagian dari keluarga, teman sekolah atau kerja, kegiatan agama ataupun bagian dcari kelompok lainnya.
Perlin dan Aneshense (1986: 418) mendefinisikan “sosial resources one is able to call upon in dealing with… problematic conditions of life. “Sedangkan Selyc (1983) menekankan pada konsep “flight or flight“ reraction: “when circumstances offered opportuniny for success (oe there was no choice), human would fight: in the face of overhelming odds, humans shought flight”.
a. Demensi dukungan sosial
Demensi dukungan sosial meliputi 3 hal:
1) Emotional support, meliputi: perasaan nyaman, dihargai, dicintai, dan diperhatikan.
2) Cognitive support, meliputi: informasi, pengrtahuan dan nasihat.
3) Materials support, meliputi: bantuan/pelayanan berupa suatu batang dalam mengatasi suatu masalah.
b. Mekanisme bagaimana dukungan sosial berpengareuh terhadap kesehatan dikenal ada 3 mekanisme social support yang secara langsung atau tidak berpengaruh terhadap kesehatan seseorang:
1) Mediator perilaku. Mengajak individu untuk mengubah perilaku yang jelek dan meniru perilaku yang baik (misalnya, berhenti merokok).
2) Psikologis. Meningkatkan harga diri dan menjabat tangani suatu interaksi yang bermakna.
3) Fisiologis. Membantu relaksasi terhadap sesuatu yang mengancam dalam upaya meningkatkan sistem imun seseorang.
c. Intervensi yang diberikan pada sistem pendukung adalah:
1) Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan.
2) Menegaskan tentang pentingnya pasien kepada orang lain.
3) Mendorong agar pasien mengungkapkan perasaan negatif.
4) Memberi umpan balik terhadap perilakunya.
5) Memberi rasa percaya dan kenyakinan.
6) Memberi informasi yang diperlukan.
7) Berperan sebagai advokat.
8) Member dukungan: moral, material (khususnya keluarga), dan spiritual.
9) Menghargai penilaian individu yang cocok terhadap kejadian.
Asuhan keperawatan yang diberikan pada keluarga pada dasarnya adalah serangkaian kegiatan yang diberikan melalui praktik keperawatan kepada keluarga, untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.
d. Tujuan dari asuhan keperawatan keluarga dengan AIDS adalah ditingkatkannya kemampuan keluarga dalam :
1) Memahami masalah HIV/AIDS pada keluarga.
2) Memutuskan tindakan yang tepat untuk mengatasi HIV/AIDS.
3) Melakukan tindakan keperawatan pada anggota keluarga yang menderita HIV/AIDS.
4) Memelihara lingkungan (fisik, psikis, dan sosial) sehingga dapat menunjang peningkatan kesehatan keluarga.
5) Memfaatkan sumber daya yang ada dalam masyarakat misalnya: puskesmas, pustu, kartu sehat untuk memperoleh pelayanan keluarga
6) Menurunkan stigma sosial.
e. Menurut Allender dan Spradly (2001) hal–hal yang perlu dikaji oleh keluarga dalam melakukan pemenuhan tugas perawatan keluarga adalah:
1) Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah HIV/AIDS, yang perlu dikaji adalah sejauh mana keluarga mengetahui mengenai fakta-fakta dari masalah HIV/AIDS meliputi: pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab yang mempengaruhinya serta persepsi keluarga terhadap masalah HIV/AIDS.
2) Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengambil keputusan mengenai tindakan keperawatan kesehatan tang tepat, hal yang perlu dikaji adalah: sejauh mana kemampuan keluarga mengerti mrngenai sifat dan luasnya masalah HIV/AIDS:
a) Apakah masalah HIV/AIDS dirasakan oleh seluruh anggota keluarga?
b) Apakah keluarga merasa menyerah terhadap masalah yang dialami?
c) Apakah keluarga merasa takut akan akibat dari penyakit HIV/AIDS?
d) Apakah keluarga mempunyai sifat negatif terhadap masalah HIV/AIDS?
e) Apakah keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang ada?
f) Apakah keluarga kurang percaya terhadap tenaga kesehatan?
g) Apakah keluarga mendapat informasi yang salah terhadap tindakan dalam mengatasi HIV/AIDS?
3) Untuk mengetahui kemampuan keluarga pasien HIV/AIDS dalam memberikan perawatan yang perlu dikaji adalah:
a) Sejauh mana keluarga mengetahui keadaan penyakit, sifat, penyebaran, komplikasi, dan cara perawatan HIV/AIDS?
b) Sejauh mana keluarga mengetahui tentang sifat dan perkembangan perawatan yang dibutuhkan?
c) Sejauh mana keluarga mengetahui keberadaan fasilitas yang diperlukan untuk perawatan?
d) Sejauh mana keluarga mengetahui sumber-sumber yang ada dalam keluarga (anggota keluarga yang bertanggung jawab, sumber kaluarga/finansial, fasilitas fisik dan psikososial) ?
e) Bagaimana sikap keluarga terhadap yang sakit?
4) Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang sehat, hal ini perlu dikaji adalah:
a) Sejauh mana keluarga mengetahui sumber-sumber keluarga yang dimiliki?
b) Sejauh mana keluarga melihat keuntungan/manfaat pemeliharaan lingkungan?
c) Sejauh mana kaluarga mengetahui pentingnya higiens sanitasi?
d) Sejauh mana sikap/pandangan keluarga terhadap higiens sanitasi?
e) Sejauh mana keluarga mengetahui upaya pencegahan penyakit?
f) Sejauh mana kekompakan antara anggota keluarga?
5) Mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga menggunakan fasilitas/pelayanan kesehatan dimasyarakat, hal ini perlu dikaji adalah:
a) Sejauh mana keluarga mengetahui keberadaan fasilitas kesehatan?
b) Sejauh mana keluarga memehami keuntungan – keuntungan yang dapat diperoleh dari fasilitas kesehatan?
c) Sejauh mana tingkat kepercayaan keluarga terhadap petugas dan fasilitas keluarga?
d) Apakah keluarga menpunyai pengalaman yang kurang baik terhadap petugas keluarga?
e) Apakah fasilitas kesehatan yang ada terjangkau oleh keluarga?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar