Sabtu, 29 Oktober 2011

TAHAPAN PERAWATAN DAN PEMULIHAN KETERGANTUNGAN NAPZA

TAHAPAN PERAWATAN DAN PEMULIHAN KETERGANTUNGAN NAPZA

A. NAPZA
NAPZA merupakan singkatan dari Narkotik, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya. Akronim ini digunakan untuk memberikan istilah terhadap obat-obatan terlarang yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan Kejiwaan. Pengertian lain dari NAPZA adalah zat kimia yang apabila dimasukkan ke dalam tubuh baik diminum, dihirup, dihisap, disedot maupun disuntikan dapat mengubah pikiran, suasana hati atau perasaan dan perilaku seseorang.
Pembagian NAPZA yaitu sebagai berikut:
1. Narkotik
Narkotik adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintesis maupun semisintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan menimbulkan ketergantungan.
Berdasarkan potensi ketergantungannya, narkotika dibagi menjadi 3 golongan:
a. Golongan I berpotensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan dan dilarang digunakan untuk pengobatan. Golongan ini banyak disalahgunakan. Contoh : Heroin, kokain, dan ganja. Ketiganya dilarang keras digunakan atau diedarkan diluar ketentuan hukum.
b. Golongan II berpotensi tinggi menimbulkan ketergantungan dan digunakan secara terbatas pada pengobatan. Contoh petidin, candu.
c. Golongan III berpotensi ringan menimbulkan ketergantungan dan banyak digunakan pada pengobatan. Contoh: kodein (Anank. 2011).
2. Alkohol
Alkohol adalah suatu obat depresan SSP yang biasa digunakan dalam masyarakat kita karena berbagai alasan (mis. untuk meningkatkan cita rasa makanan, mendorong relaksasi, dan kesenangan saat berkumpul dengan teman-teman, merayakan sesuatu, dan sebagai salah satu bagian dari upacara keagamaan). Secara teraupetik, alkohol banyak terkandung dalam obat yang dijual bebas/diresepkan. Alkohol tidak akan berbahaya, bahkan alkohol akan menyenangkan, dan kadang menguntungkan jika digunakan secara bertanggung jawab dan tidak berlebihan. Tetapi, seperti halnya obat-obatan lain yang dapat mengganggu pikiran, alkohol berpotensi untuk disalahgunakan (Doenges, D, Marilynn. 2007).
Golongan alkohol yaitu sebagai berikut:
a. Golongan I (1% - 5%) : Bir, Greensand.
b. Golongan II (5% - 20%) : Anggur, Martini.
c. Golongan III (20% - 50%) : Wisky, Brandy.
3. Psikotropik
Psikotropika adalah merupakan suatu zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Berdasarkan potensi ketergantungannya, psikotropika dibagi menjadi 4 golongan:
a. Golongan I sangat tinggi, menimbulkan ketegantungan dan selain untuk ilmu pengetahuan dinyatakan sebagai barang terlarang, sehingga dilarang keras digunakan atau diedarkan di luar ketentuan hukum. Contoh: ekstasi (MDMA) yang banyak disalahgunakan dan LSD.
b. Golongan II berpotensi tinggi menimbulkan ketergantungan dan secara selektif dapat digunakan pada pengobatan. Contoh amfetamin dan metamefamin (shabu) yang banyak disalahgunakan.
c. Golongan III dan IV berpotensi sedang dan ringan. Menimbulkan ketergantungan, dan dapat digunakan pada pengobatan, tetapi harus dengan resep dokter. Contoh: obat penenang (sedativa) dan obat tidur (hipnotika). Yang sering disalahgunakan: Mogadon (MG), Rohypnol (Rohyp), Pil BK/Koplo, Lexotan (Lexo) (Anank. 2011).

4. Zat Adiktif Lainnya
Zat adiktif adalah obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi oleh organisme hidup dapat menyebabkan kerja biologi serta menimbulkan ketergantungan atau adiksi yang sulit dihentikan dan berefek ingin menggunakannya secara terus-menerus yang jika dihentikan dapat memberi efek lelah luar biasa atau rasa sakit luar biasa.
Contoh zat adiktif yaitu sebagai berikut:
a. Volatile Solvent : Aceton, bansin, Aibon (Lem).
b. Nicotine : Rokok .
c. Coffein : Kopi
Secara umum Efek yang ditimbulkan oleh NAPZA terbagi atas 3 golongan, hal ini sangat terlihat dari dampak setelah obat yang digunakan bereaksi. Tidak seluruh obat yang digunakan akan berakibat sama, anatar satu obat/bahan dengan obat yang lain akan berbeda. 3 golongan dari efek yang ditimbulkan NAPZA yaitu depresan, stimulan, dan halusinogen.
1. Depresan
Depresan adalah obat/zat yang berkhasiat menekan atau menurunkan fungsi susunan sarap pusat sehingga aktivitas fungsional tubuh berkurang. Definisi lain menyatakan depresan adalah jenis obat yang berfungsi untuk mengurangi aktivitas fungsional tubuh. Obat jenis ini dapat membuat si pemakai merasa tenang dan bahkan membuatnya tertidur atau tak sadarkan diri.
Contoh dari golongan depresan yaitu golongan opioids (opium, morfin, heroin, metadone), alkohol, ganja, sedatif hipnotik (valium, mogadon, rohipnol, serepax), solvent/inhalant (lem, bensin, cairan korek api, thinner, vernis, dll).
2. Stimulan
Stimulan adalah jenis zat yang dapat merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan gairah kerja dan kesadaran. Definisi lain menyatakan stimulan adalah obat/zat yang berkhasiat meningkatkan fungsi susunan sarap pusat (merangsang fungsi tubuh) sehingga penggunanya merasa tetap segar dan bersemangat
Contoh dari golongan halusinogen yaitu kokain, amphetamine, shabu-sabu, ecstasy, nicotin, kafein, tablet pelangsing (duramine, sanorex).
3. Halusinogen
Halusinogen adalah zat yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan pikiran dan sering kali dengan menciptakan daya pandang yang berbeda meskipun seluruh perasaannya akan terganggu.
Contoh dari golongan stimulan yaitu LSD (Lysergic Acid Diethylamide), Magic Mushrooms (psilocybin), Mescaline (Peyote cactus), PCP (Phencyclidine), Ecstasy (MDMA), Ketamine, Ganja.

B. PENCEGAHAN NAPZA
Pencegahan dapat dilakukan, misalnya dengan:
a. Memberikan informasi dan pendidikan yang efektif tentang NAPZA.
b. Deteksi dini perubahan perilaku.
c. Menolak tegas untuk mencoba (“Say no to drugs”) atau “Katakan tidak pada narkoba”

C. PENGOBATAN NAPZA
1. Pengobatan Secara Medis Melalui Detoksifikasi
Terapi pengobatan bagi klien NAPZA misalnya dengan detoksifikasi. Detoksifikasi adalah upaya untuk mengurangi atau menghentikan gejala putus zat, dengan dua cara yaitu:
a. Detoksifikasi tanpa subsitusi
Klien ketergantungan putau (heroin) yang berhenti menggunakan zat yang mengalami gajala putus zat tidak diberi obat untuk menghilangkan gejala putus zat tersebut. Klien hanya dibiarkan saja sampai gejala putus zat tersebut berhenti sendiri.
b. Detoksifikasi dengan substitusi
Putau atau heroin dapat disubstitusi dengan memberikan jenis opiat misalnya kodein, bufremorfin, dan metadon. Substitusi bagi pengguna sedatif-hipnotik dan alkohol dapat dari jenis anti ansietas, misalnya diazepam. Pemberian substitusi adalah dengan cara penurunan dosis secara bertahap sampai berhenti sama sekali. Selama pemberian substitusi dapat juga diberikan obat yang menghilangkan gejala simptomatik, misalnya obat penghilang rasa nyeri, rasa mual, dan obat tidur atau sesuai dengan gejala yang ditimbulkan akibat putus zat tersebut.
2. Aplikasi Proses Keperawatan secara umum
Akan sulit untuk mengidentifikasi individu yang mengalami masalah pernggunaan NAPZA. Penggunaannya biasanya mencakup penggunaan mekanisme pertahanan, terutama, penyangkalan. Klien dapat secara langsung menyangkal mengalami suatu masalah, atau meremehkan besarnya masalah atau penggunaan zat yang aktual. Selain itu, perawat yang dapat menemukan klien yang mengalami masalah zat di berbagai lingkungan yang tidak terkait dengan kesehatan jiwa. Klien dapat datang ke klinik untuk terapi masalah medis yang terkait dengan penggunaan alkohol, atau klien dapat mengalami gejala outus zat ketika berada di rumah sakit untuk pembedahan atau kondisi yang tidak terkait. Perawat harus waspada terhadap kemungkinan penggunaan zat pada situasi ini dan bersiap-siap untuk mengenali keberadaannya dan melakukan rujukan yang tepat.
Beberapa instrumen skrining yang tersedia dapat digunakan di setiap tempat. Kuesioner CAGE bersifat sederhana dan mudah untuk diingat dan digunakan. Jawaban “ya” untuk satu atau lebih dari empat pertanyaan yang mengindikasikan suatu kebutuhan untuk pengkajian masalah penggunaan zat lebih lanjut. Pertanyaan dapat dimodifikasi untuk setiap zat.
Tes identifikasi gangguan penggunaan alkohol (Alcohol Use Disorders Identification Test [AUDIT]) merupakan alat skrining yang berguna untuk mendeteksi pola minum alkohol yang membahayakan yang mungkin menjadi prekursor untuk gangguan penggunaan zat yang kompleks. Alat ini meningkatkan pengenalan masalah minuman alkohol pada tahap awal, ketika resolusi tanpa terapi formal lebih mungkin dilakukan. Deteksi dini dan terapi dikaitkan dengan hasil yang lebih positif.
Detoksifikasi merupakan prioritas awal. Rencana asuhan keperawatan untuk klien ketergantungan NAPZA akan ditampilkan secara rinci pada bagian sub bab selanjutnya. Prioritas klien secara individual akan berdasarkan kebutuhan fisik mereka dan dapat mencakup keamanan, nutrisi, cairan, eliminasi, dan tidur. Bagian selanjutnya akan berfokus pada perawatan klien yang menjalani terapi penyalahgunaan zat setelah detoksifikasi.
Di bawah ini terdapat beberapa alat skrining yang sudah dijelaskan sebelumnya akan dijelaskan lebih rinci. Adapun alat skrining tersebut yaitu:
a. Kuesioner CAGE
Apabila klien menjawab “ya” untuk salah satu pertanyaan berikut, hal ini memerlukan pengkajian lebih lanjut:
1) Pernahkah Anda merasa bahwa Anda harus mengurangi (Cut down) alkohol?
2) Pernahkah orang-orang Anda (Annoyed) dengan mengkritik perilaku minum alkohol yang anda lakukan?
3) Pernahkah Anda merasa tidak enak atau bersalah (Guilty) dengan minum alkohol?
4) Pernahkan Anda minum alkohol lebih awal pada pagi hari untuk mengencangkan saraf Anda atau menghindari sakit kepala berat karena minum alkohol terlalu banyak (Eye-opener)?
b. Alcohol Use Disorders Identification Test (AUDIT)
Kuesioner berikut ini akan memberikan Anda indikasi tingkat resiko yang terkait dengan pola minum alkohol yang Anda alami sekarang. Untuk mengkaji situasi Anda secara akurat, Anda perlu jujur dalam memberikan jawaban. Kuesioner ini dikembangkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan digunakan di berbagai negara untuk membantu masyarakat agar lebih memahami tingkat resiko mereka saat ini yang berhubungan dengan konsumsinalkohol.
1) Berapa kali Anda minum minuman yang mengandung alkohol? (0) tidak pernah, (1) setiap bulan atau kurang dari sebulan, (2) 2 sampai 4 kali sebulan, (3) 2 sampai 3 kali seminggu, (4) 4 kali atau lebih dalam seminggu.
2) Berapa gelas minuman standart yang Anda minum pada hari tertentu? (0) 1 atau 2, (1) 3 atau 4 , (2) 5 atau 6, (3) 7 atau 9, (4) 10 atau lebih.
3) Berapa kali Anda minum enam gelas alkohol atau lebih pada suatu acara? 0) tidak pernah, (1) kurang dari sebulan, (2) setiap bulan, (3) setiap minggu, (4) setiap hari atau hampir setiap hari.
4) Berapa kali selama setahun terakhir Anda mendapatkan bahwa Anda tidak mampu menghentikan kebiasaan minum alkohol setelah Anda memulainya? 0) tidak pernah, (1) kurang dari sebulan, (2) setiap bulan, (3) setiap minggu, (4) setiap hari atau hampit setiap hari.
5) Berapa kali selama setahun terakir Anda gagal melakukan hal-hal secara normal diharapkan dari Anda karena minum alkohol? 0) tidak pernah, (1) kurang dari sebulan, (2) setiap bulan, (3) setiap minggu, (4) setiap hari atau hampit setiap hari.
6) Berapa kali selama setahun terakhir Anda perlu minum alkohol pada pagi hari untuk menyegarkan diri Anda setelah mabuk? 0) tidak pernah, (1) kurang dari sebulan, (2) setiap bulan, (3) setiap minggu, (4) setiap hari atau hampit setiap hari.
7) Berapa kali selama setahun Anda mempunyai perasaan bersalah atau penyesalan setelah minum alkohol? 0) tidak pernah, (1) kurang dari sebulan, (2) setiap bulan, (3) setiap minggu, (4) setiap hari atau hampit setiap hari.
8) Berapa kali selama setahun terakhir Anda tidak dapat mengingat apa yang terjadi semalam sebelum Anda minum alkohol? 0) tidak pernah, (1) kurang dari sebulan, (2) setiap bulan, (3) setiap minggu, (4) setiap hari atau hampit setiap hari.
9) Apakah Anda atau orang lain pernah cedera akibat minum alkohol? 0) tidak pernah, (1) kurang dari sebulan, (2) setiap bulan, (3) setiap minggu, (4) setiap hari atau hampit setiap hari.
10) Apakah saudara, dokter atau tenaga kesehatan lain memperhatikan kebiasaan Anda minum alkohol atau menyarankan Anda untuk mengurangi minum alkohol? 0) tidak, (1) ya, tetapi tidak dalam setahun terakhir, (2) ya, selama setahun terakhir.
Proses keperawatan pada pasien dengan ketergantungan NAPZA secara umum meliputi:
a. Pengkajian
1) Riwayat
Klien dapat melaporkan kehidupan keluarga yang kacau dengan salah satu orang tua atau anggota keluarga lain mengalami masalah penyalahgunaan zat meskipun hal ini tidak selalu menjadi suatu masalah. Klien biasanya menggambarkan beberapa macam krisis yang mencetuskan terapi, seperti masalah fisik atau perkembangan gejala putus alkohol walaupun diobati untuk kondisi yang lain. Biasanya orang lain dilibatkan dalam keputusan klien untuk mencari terapi, seperti pengusaha yang terancam kehilangan usahanya, atau pasangan atau rekan yang terancam kehilangan hubungan. Klien jarang memutuskan utnuk mencari terapi secara mandiri, tanpa pengaruh dari luar.
2) Penampilan Umum dan Perilaku Motorik
Penampilan dan bicara klien mungkin normal, atau klien mungkin tampak cemas, letih, dan berantakan jika ia baru saja menyelesaikan proses detoksifikasi yang sulit. Klien dapat terlihat sakit secara fisik, bergantung pada status kesehatannya secara keseluruhan dan setiap masalah kesehatan yang terjadi akibat penggunaan zat. Kebanyakan klien sedikit khawatir dengan terapi, dapat merasa benci dengan terapi, atau merasa ditekan oleh orang lain untuk menjalani terapi. Hal ini mungkin pertama kali setelah waktu yang lama klien harus menghadapi berbagai kesulitan tanpa bantuan zat psikoaktif.
3) Mood dan Afek
Rentang mood dan afek yang luas mungkin terjadi. Beberapa klien terlihat sedih dan menangis, dengan mengungkapkan rasa bersalah dan keadaan mereka. Klien lain dapat menjadi marah dan kasar atau tenang dan murung, tidak mau berbicara kepada perawat. Iritabilitas biasa terjadi karena klien baru saja terbebas dari zat. Klien dapat merasa senang dan terlihat gembira, tampak tidak terpengaruh oleh situasi, terutama apabila ia masih menyangkal penggunaan zat.
4) Proses dan Isi Pikir
Klien mungkin meremehkan penggunaan zat, menyalahkan orang lain atas masalah mereka. Klien mungkin berpikir bahwa mereka tidak dapat bertahan tanpa zat, atau mungkin mengungkapkan tidak mau melakukannya. Mereka mungkin memfokuskan perhatian mereka pada keuangan, isu legal, atau masalah pekerjaan sebagai sumber utama kesulitan mereka, bukan penggunaan zat. Mereka mungkin percaya bahwa mereka dapat berhenti atas kemauan mereka sendiri apabila mereka menginginkannya, dan terus menyangkal da meremehkan besarnya masalah.
5) Sensorium dan Proses Intelektual
Klien biasanya terorientasi dan sadar, kecuali jika mengalami efek putus zat yang lama. Kemampuan intelektual utuh kecuali jika klien mengalami defisit neurologis akibat penggunaan alkohol dalam jangka panjang atau penggunaan inhalan.
6) Penilaian dan Daya Litik
Klien mungkin malkukan penilaian yang buruk, terutama ketika berada di bawah pengaruh zat. Penilaian klien masih dapat dipengaruhi: klien dapat berperilaku impulsif, seperti menghentikan terapi untuk mendapatkan zat yang dipilihnya. Daya tilik biasanya terbatas terkait dengan penggunaan zat. Klien mungkin mengalami kesulitan mengakui perilakunya ketika menggunakan zat, atau tidak dapat melihat bahwa kehilangan pekerjaan atau hubungan terkait dengan penggunaan zat. Klien dapat tetap yakin bahwa ia dapat mengendalikan penggunaan zat.
7) Konsep Diri
Klien biasanya mempunyai harga diri rendah , yang daoat diungkapkan secara langsung atau dapat ditutup dengan perilaku grandiositas. Klien dapat merasa mampu untuk menghadapi kehidsupan dan stres tanpa zat dan sering merasa tidak nyaman di sekitar orang lain ketika tidak menggunakan zat. Klien sering kesulitan dalam mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaan yang sebenarnya, di masa lalu lebih suka menghilangkan perasaan dan menghindari setiap derita atau kesulitan pribadi dengan bantuan zat.
8) Peran dan Hubungan
Klien biasanya mengalami banyak kesulitan dengan peran sosial, keluarga dan peran pekerjaan. Ketidakhadiran dan [performa kerja yang buruk biasa terjadi. Anggota keluarga sering kali memberi tahu klien bahwa penggunaan zat adalah suatu masalah, da hal tersebut dapat menjadi pokok perdebatan keluarga. Hubungan dalam keluarga sering mengalami ketegangan. Klien dapat marah kepada anggota keluarga yang berperan membawanya ke tempat terapi atau yang mengamcam akan kehilangan hubungan yang signifikan
9) Pertimbangan fisiologis
Banyak klien mempunyai riwayat gizi buruk (lebih baik menggunakan zat daripada makan) dan gangguan tidur yang terjadi di luar detiksifikasi. Klien dapat mengalami kerusakan hati akibat minum alkohol, hepatitis atau infeksi HIV akibat penggunaan obat IV, atau kerusakan neurologis atau paru akibat menggunakan inhala.
b. Analisa Data
Setiap klien mempunyai diagnosis keperawatan spesifik untuk status kesehatan fisiknya. Hal ini dapat mencakup:
1) Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
2) Resiko infeksi
3) Resiko cedera
4) Diare
5) Kelebihan volume cairan
6) Intoleransi aktivitas
7) Defisit perawatan diri
Diagnosis keperawatan yang biasa digunakan ketika menangani klien yang menggunakan zat mencakup:
1) Penyangkalan tidak efektif.
2) Perubahan performa peran
3) Perubahan proses keluarga: alkoholisme.
4) Ketidakefektifan koping individu.
c. Identifikasi Data
Hasil terapi untuk klien yang menggunakan zat dapat mencakup:
1) Klien akan berhenti minum alkohol dan menggunakan zat.
2) Klien akan mengungkapkan perasaannya secara terbuka dan langsung.
3) Klien akan menyatakan kesediannya untuk bertanggung jawab atas perilakunya.
4) Klien akan mempraktikkan alternatif non kimia untuk menghadapi stres atau situasi yang sulit.
5) Klien akan menetapkan rencana setelah perawatan yang efektif.
d. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan untuk klien yang menyalahgunakan zat yaitu:
1) Penyuluhan kesehatan untuk klien dan keluarga
2) Hilangkan mitos tentang penyalahgunaan zat.
3) Kurangi perilaku codependent diantara anggota keluarga.
4) Lakukan rujukan yang tepat untuk anggota keluarga.
5) Tingkatkan keterampilang koping.
6) Bermain peran tentang situasi yang mungkin sulit.
7) Berfokus pada masa sekarang bersama dengan klien.
8) Terapkan tujuan yang realistis seperti tetap bersih dari zat hari ini.

1) Penyuluhan kesehatan untuk klien dan keluarga
Penyuluhan tentang relaps penting dilakukan. Anggota keluarga dan teman harus menyadari bahwa klien yang mulai kembali pada perilaku lainnya, kembali menggunakan zat, atau berpikir bahwa ia dapat mengatasi diri saya sendiri sekarang beresiko tinggi untuk relaps, dan mereka peru mengambil tindakan. Baik klien berencana untuk menghadiri self-hep group ataupun mempunyai sumber lain, rencana spesifik untuk dukungan dan keterlibatan yang berkelanjutan setelah terapi meningkatkan kesempatan klien untuk sembuh.
Penyuluhan yang dapat diberikan oleh seorang perawat kepada klien dan keluarga yaitu:
1) Penyalahgunaan zat merupakan suatu penyakit.
2) Hilangkan mitos tentang penyalahgunaan zat.
3) Abztinensi dari zat bukan masalah kuatnya kemauan.
4) Setiap alkohol, apakah itu bir, anggur, atau minuman keras, dapat menjadi zat yang dislahgunakan.
5) Obat yang diresepkan dapat menjadi zat yang disalahgunakan.
6) Umpan balik darikleuarga terhadap kembalinya klien ke mekanisme koping maladaptif sebelumnya adalah penting.
7) Partisipasi yang berkelanjutan dalam program setelah perawatan adalah hal yang penting.
2) Hilangkan mitos tentang penyalahgunaan zat.
Klien dan anggota keluarga membutuhkan fakta tantang zat, efeknya, dan penyembuhannya. Mitos dan pendapat yang salah seperti di bawah ini harus dihilangkan:
1) “Itu merupakan kuatnya kemauan”.
2) “Saya tidak dapat menjadi alkoholik jika saya hanya minum bir atau hanya minum pada akhir pekan”.
3) “Saya dapat belajar menggunakan obat dari masyarakat”.
4) “Saya baik-baik saja sekarang: saya dapat menanganinya dengan menggunakan zat sesekali”.
3) Kurangi perilaku codependent diantara anggota keluarga
Codependent merupakan suatu koping maladaptif pada anggota keluarga atau orang lain akibat hubungan yang lama dengan individu yang menggunakan zat. Codependent ditandai dengan keterampilan dalam berhubungan yang buruk, ansietas dan kekhawatiran yang berlebihan, berprilaku yang kompulsif, dan resisten terhadap perubahan. Pola perilaku disfungsional ini dipelajari ketika anggota keluarga mencoba menyesuaikan dengan perilaku pengguna zat. Perilaku codependent tampak bermanfaat, tetapi sebenarnya membuat seseorang terus menggunakan zat.
4) Lakukan rujukan yang tepat untuk anggota keluarga
Dalam menangani masalah penggunaan zat, diperlukan adanya kelompok pendukung dan kelompok terapi yang mana tersedia untuk menangani masalah anggota keluarga. Karena tanpa bantuan dan dukungan dalam pemahaman dan koping, banyak anggota keluarga dapat mengalami masalah penyalahgunaan zat sehingga meneruskan siklus disfungsional.
5) Tingkatkan keterampilang koping.
Perawat dapat mendorong klien untuk mengidentifikasi area masalah dalam kehidupannya dan menggali bagaimana penggunaan zat dapat memperbesar masalah tersebut. Klien tidak boleh mempercayai bahwa semua masalah kehidupan akan hilang dengan beralih dari zat, sebaliknya klien dapat memikirkan masalah tersebut dengan jelas. Perawat mungkin perlu mengalihkan perhatian klien kepada perilaku klien sendiri dan bagaimana perilaku tersbut memengaruhi masalah klien. Perawat tidak boleh membiarkan klien memusatkan perhatian pada peristiwa eksternal atau orang lain tanpa mendiskusikan perannya dalam masalah.
6) Bermain peran tentang situasi yang mungkin sulit
Bermain peran tentang situasi yang sulit bagi klien di masa lalu dapat bermanfaat. Hal ini juga merupakan kesempatan untuk membantu klien belajar menyelesaikan masalah atau mendiskusikan situasi dengan orang lain dengan cara yang lebih efektif dan tenang.
7) Berfokus pada masa sekarang bersama dengan klien
Perawat dapat membantu klien berfokus pada masa sekarang, bukan pada apa yang terjadi di masa lalu. Memikirkan masalah dan menyesali masa lalu tidak bermanfaat bagi klien. Sebaliknya, klien berfikus pada apa yang dapat ia lakukan sekarang terkait dengan perilaku atau hubungannya.
8) Terapkan tujuan yang realistis seperti tetap bersih dari zat hari ini.
Klien dapat memerlukan dukungan perawat untuk memandang kehidupan dan bersih dari zat dalam jangka waktu yang memungkinkan.

e. Evaluasi
Keefektifan terapi penyalahgunaan zat banyak didasarkan pada abstinensi klien dari zat. Selain itu, terapi yang berhasil harus menghasilkan performa peran yang lebih stabil, perbaikan hubungan interpersonal, dan peningkatan kepuasan dengan kualitas kehidupan.



3. Proses Keperawatan Berdasarkan Pemakaian Zat Alkohol dan 3 Golongan Efek Dari Pemakaian Napza
a. Gangguan Terkait Alkohol
Alkohol adalah suatu obat depresan SSP yang biasa digunakan dalam masyarakat kita karena berbagai alasan (mis. untuk meningkatkan cita rasa makanan, mendorong relaksasi, dan kesenangan saat berkumpul dengan teman-teman, merayakan sesuatu, dan sebagai salah satu bagian dari upacara keagamaan). Secara teraupetik, alkohol banyak terkandung dalam obat yang dijual bebas/diresepkan. Alkohol tidak akan berbahaya, bahkan alkohol akan menyenangkan, dan kadang menguntungkan jika digunakan secara bertanggung jawab dan tidak berlebihan. Tetapi, seperti halnya obat-obatan lain yang dapat mengganggu pikiran, alkohol berpotensi untuk disalahgunakan dan, pada kenyataannya, merupakan obat yang paling banyak disalahgunakan di Amerika Serikat (penelitian mnunjukkan penyalahgunaan alkohol dilakukan oleh 5% sampai 10% dari populasi orang dewasa) dan dapat berpotensi fatal. Biasanya, klien yang menjalani perawatan di rumah mnggunakan alkohol bersama-sama dengan obat-obatan lainnya. Diyakini bahwa alkohol sering digunakan oleh klien yang mempunyai penyakit mental untuk mengurangi nyeri yang mereka rasakan. Istilah “diagnosis ganda” digunakan untuk menjelaskan hubungan antara penggunaan/penyalahgunaan obat-obatan (termasuk alkohol) dengan diagnosis psikiatrik lainnya. Tetapi, adanya dua jenis kondisi tersebut perlu diketahui sehingga berbagai masalah pengobatan yang sering muncul secara berlebihan terjadi karena adanya kedua jenis kondisi tersebut.
Rencana perawatan ini ditunjukkan untuk iintoksikasi/putus alkohol yang akut dan dapat digunakan bersama-sama dengan MK: Rehabilitasi Ketergantungan/Penyalahan zat.
1) Teori Etiologis
a) Psikodinamika
Individu terfiksasi pada suatu tingkat perkembangan yang lebih rendah, dengan ego yang terbelakang dan superego yang lemah. Individu tersebut mempunyai sifat ketergantungan yang sangat tinggi, yang ditandai dengan control rangsang yang buruk, toleransi frustasi yang rendah, dan harga diri yang rendah.
b) Biologis
Enzim, gen, kimia otak, dan horrmon membentuk dan mempengaruhi respon seseorang terhadap alkohol adalah (1) familial, yang sebagian besar diturunkan dari keluarga, dan (2) didapat. Riwayat gangguan akibat kurang perhatian atau gangguan perilaku pada masa kecil juga dapat meningkatkan resiko seorang anak menjadi pecandu alkohol. Beberapa perubahan fisiologis tertentu mungkin juga dapat menyebabkan terjadinya kecanduan alkohol atau alkoholisme.
c) Dinamika Keluarga
Satu dari 12-15 orang mempunyai masalah dengan minuman keras. Dalam system keluarga yang tidak berfungsi dengan baik, alkohol dianggap sebagai metode utama untuk menghilangkan stress. Anak- anak dengan masalah kecanduan alkohol mempunyai kemungkinan 4kali lebih besar berkembang menjadi alkoholisme daripada anak-anak yang tidak mengalami masalah kecanduan alkohol. Anak mempunyai model peran yang negative dan belajar berespons terhadap situasi yang penuh stress dengan menggunakan cara yang sama dengan cara yang digunakan oleh model peran yang ada. Penggunaan alkohol adalah budaya, dan banyak factor yang mempengaruhi keputusan seseorang untuk mengkonsumsi alkohol dalam jumlah yang banyak dan frekuensi yang sering. Penyangkalan terhadap penyakit dapat menjadi hambatan yang besar untuk mengindentifikasi dan mengobati alkoholisme dan penyalahgunaan alkohol.
2) Data Dasar Pengkajian Pasien
Data bergantung pada lama/banyaknya alkohol yang digunakan, obat-obatan lain yang digunakan secara bersamaan, banyaknya organ tubuh yang telah dipengaruhi, dan adanya kondisi psikiatri lainnya.
a) Aktivitas atau Istirahat
Sulit tidur, tidak dapat beristirahat dengan baik.
b) Sirkulasi
(1) Nadi perifer lemah, tidak teratur atau cepat.
(2) Hipertensi umumnya terjadi pada gejala putus alkohol tahap awal, tetapi mungkin dapat berubah menjadi labil/ menjadi hipotensi.
(3) Takikardia umumnya terjadi pada gejala putus alkohol akut
c) Integritas Ego
(1) Perasaan bersalah/malu, bertahan untuk tetap minum alkohol.
(2) Menyangkal, rasionalis
(3) Keluhan adanya stressor yang multiple;masalah yang berhubungan dengan orang lain.
(4) Stressor/kehilangan multiple (hubungan dengan orang lain, pekerjaan, keuangan)
(5) Penggunaan obat-obatan untuk mengatasi stressor dalam hidup, rasa bosan, dll
d) Makan atau Minum
(1) Mual/muntah, toleransi terhhadap makanan.
(2) Penurunan kekuatan otot, rambut kering/rapuh, pembengkakan kelenjar ludah, peradanggan rongga mulut, kerapuhan pembuluh kapiler (malnutrisi).
(3) Terlihat edema jaringan pada seluruh tubuh (defisiensi protein).
(4) Distensi ambung; asites, pembesaran hati (seperti yang ditemukan pada sirosis).
e) Neurosensorik
(1) Sakit kepala, pusing, pandagan kabur, pingsan.
(2) Hilang ingatan/konfabulasi (tidak bisa bicara).
(3) Tingkat kesadaran/orientasi: konfusi, stupor, hiperaktifitas, gangguan proses pkir, wicara inkoheren/kacau.
(4) Halusinasi: lihat, raba, cium dan dengar (mis, mengambil sesuatu dari udara atau memberi respons pada orang atau suara yang tidak terlihat).
f) Nyeri atau ketidaknyamanan
Klien mungkin melaporkan adanya nyeri dan rasa perih pada abdomen bagian atas yang menyebar kepunggung (peradangan pangkreas).
g) Pernapasan
(1) Riwayat penggunaan tembakau, masalah pernapasan kronis/berulang.
(2) Takipnea (status hiperaktif dari gejala putus alkohol).
(3) Pernapasan Cheyne-stokes atau depresi pernapasan.
(4) Bunyi napas: ada pengurangan/penambahan bunyi (menunjukkan kompilkasi ulmonal [mis, depresi pernapasan, pneumonia]).
h) Keamanan
(1) Riwayat kecelakaan berulang, seperti jatuh, fraktur, laserasi, luka bakar, pingsan, atau kecelakaan mobil.
(2) Fraktur yang sudah sembuh atau fraktur baru (tandanya ada trauma baru/berulang).
(3) Peningkatan suhu tubuh (dehidrasi dan stimulasi saraf simpatis); kemerahan/diaphoresis (menunjukkan adanya infeksi).
(4) Ide/usaha bunuh diri.
i) Interaksi Sosial
(1) Sering tidak masuk kerja/sekolah karena sakit, berkelahi dengan orang lain, ditahan pihak keamanan.
(2) Disfungsi sistem keluarga; mempunyai masalah berhubungan dengan orang lain.
j) Pengajaran dan pembelajaran
(1) Riwayat penggunaan /penyalahgunaan alkohol dan obat-obat lain.
(2) Riwayat hospitalisasi karena alkoholisme.
(3) Riwayat alkoholisme/penggunaan obat-obatan dalam keluarga.
3) Pemeriksaan Diagnostik
a) Urinalisis: infeksi mungkin dapat terdeteksi; ditemukan keton yang berhubungan dengan pemecahan asam lemak akibat malnutrisi.
b) Kadar alkohol/obat dalam darah : Kadar alkohol dalam darah tergantung pada jumlah alkohol/obat-obatan yang dikonsumsi dan selang waktu antara pemakai dan pemeriksa.
c) Glukosa: menunjukkan hiperglikemia/hipoglikemia yang berhubungan dengan pankreatitis, malnutrisi, atau penurunan cadangan glikogen hati.

b. Gangguan Terkait-Inhalan dan Stimulus (Amfetamin, Kokain, Kafein, dan Nikotin)
Stimulant adalah obat-obatan alami dan buatan yang dapat meningkatkan kerja system saraf. Obat-obatan tersebut dapat ditelan, disuntikan, dihisap, atau dibakar. Obat-obatan ini dapat diidentifikasi melalui perubahan tingkah laku dan agitasi psikomotor. Struktur molekul dan mekanisme kerja obat-obatan ini sangat berbeda. Obat-obatan stimulant yang paling prevalen dan paling sering digunakan adalah kafein dan nikotin. Kafein merupakan unsure yang umumnya terdapat dalam kopi, the, kola, dan cooklat. Nkotin merupakan unsure utama yang terdapat daalam tembakau. Obat-obtan tersebut dipandang sebagai bagian dari budaya kita, biasanya tidak dianggap dapat menyebabkan overdosis, dan diuraikan disini hanya sebagai informasi. Obat-obatan stimulan yang poten lainnya (contohnya kokain, amfetamin, dan obat-obatan stimulant nonamfetamin) diatur dalam Controlled Substance Act. Obat-obatan tersebut tidak hanya tersedia untuk tujuan pengobatan dengan menggunakan resep dokter, tetapi juga tersedia secara luas sebagai obat terlarang. Kemungkinan terjadinya overdosis dan kematian akibat obat-obatan ini sangat tinggi.
Zat-zat inhalasi, misalnya bensin, lem,cat/tinner cat, cat semprot, bahan campuran pembersih, dan cairan penghapus, dan beberapa nama lainnya, tidak diklasifikasikan sebagai obat-obatan stimulan tetapi, efek intoksikasi dari berbagai produk ini dan intervensi terapeutik yang dilakukan sama dengan obat-obatan stimulan sehingga ikut diuraikan disini.
Rencana perawatan ini ditujukan untuk mengatasi masalh intoksikasi/putus obat akut dan digunakan bersama-sama dengan masalah utama; rehabilitasi ketergantungan/penyalahgunaan obat.


1) Teori Etiologis
a) Psikodinamika
Individu yang menyalahgunakan obat-obatan gagal menyelesaikan tugas-tugas tidak terkait dengan keindividuan, dan menyebabkan tidak berkembangnya ego. Individu tersebut memiliki sifat ketergantungan, yang ditandai dengan control rangsang yang rendah, toleransi yang rendah terhadap frustasi, dan harga diri ynag rendah, kepatuhan aturan social yang rendah, neurotoksisme, dan introversi. Superego yang lemah menyebabkan hilangnya rasa bersalah terhadap perilaku. Status psikiatrik dasar harus dikaji, bila individu menggunakan obat-obatan stimulan karena alasan pengobatan
(diagnosis ganda).
b) Biologis
Mata rantai genetik yang nyata mempunyai pengaruh dalam berkembangnya gangguan penggunaan zat. Namun, angka statistik yang ada tidak memberi kesimpulan yang berhubungan dengan penyalahgunaan obat-obaatan stimulant.
c) Dinamika Keluarga
Predisposisi gangguan penggunaan obat-obatan terjadi pada system keluarga yang tidak berfungsi. Predisposisi tersebut antara lain orang tua yang tidak lengkap atau orang tua yang kejam dan/atau mereka yang mempunyai salah satu orang tua yang lemah dan tidak efektif. Penyalahgunaan obat-obatan mungkin digunakan sebagai metode utama untuk menghilangkan stress. Anak mempunyai model peran yang negatif dan belajar berespons terhadap situasi yang penuh stress dengan menggunakan sikap yang sama dengan model peran yang dimilikinya.
2) Data Dasar Pengkajian Pasien
Klien mungkin memperlihatkan gejala intoksikasi atau putus obat dengan tahap yang bervariasi sehingga akan mempengaruhi data-data yang diperoleh. Data tergantung pada tahap putus obat, penggunaan obat-obatan stimulan bersama-sama dengan alkohol/obat-obatan lainnya, atau kontaminan dalam pemutusan obat.
a) Aktivitas atau Istirahat
(1) Insomnia, hipersomnia, mimpi buruk
(2) Ansietas
(3) Hiperaktivitas, kewaspadaan meningkat, atau tertidur saat beraktivitas, letargi (pada penggunaan obat-obatan inhalasi)
(4) Tidak mampu menoleransi atau memperbaiki kelemahan kronis (depresi dan/atau kesepian mungkin menjadi salah satu factor)
(5) Kelemahan otot secara umum, inkoordinasi, cara berjalan yang tidak stabil (pada penggunaan obat-obatan inhalasi).
b) Sirkulasi
(1) Tekanan darah biasanya meningkat, mungkin terjadi hipotensi takikardia, denyut tidak teratur.
(2) Diaphoresis
c) Integritas Ego
(1) Perlu merasa gembira, dapat bersosialisasi, bahagia dengan diri sendiri, ingin membuktikan makna diri, meningkatkan konsep diri, sangat menginginkan kegembiraan.
(2) Kompulsi akibat penggunaan obat-obatan (penggunaan obat-obatan untuk merayakan sesuatu atau saat berada pada situasi krisis, meyakini bahwa obat dapat digunakan dengan jumlah yang sesuai dengan aturan, sering terjadi dalam pesta minum-minuman keras) mungkin akan berpikir bahwa penyembuhan harus diraih melalui usaha yang keras, subjek untuk mengontrol rangsang.
d) Makan atau Minum
(1) Mual/muntah, tidak nafsu makan.
(2) Kehilangan BB.
(3) Tidak tertarik dengan makanan.
e) Neurosensorik
(1) Gejala-gejala emosi/psikologis (contohnya gembira, waham, banyak bicara, waspada yang berlebihan).
(2) Dilatasi pupil.
(3) Apatis, euforia.
f) Nyeri atau ketidaknyamanan
Nyeri tulang/dada.
g) Pernapasan
(1) Takipnea, batuk.
(2) Ranitis nasal (pada penggunaan kokain kronis).
(3) Perdarahan pulmonal.
h) Keamanan
(1) Riwayat kecelakaan: terpajan pada PMS, termasuk HIV).
(2) Peningkatan suhu tubuh, demam/kedinginan.
(3) Adanya bekas trauma (contohnya memar, laserasi, luka bakar), kerusakan nasal.
(4) Perilaku menyerang (pada penggunaan inhalan.
i) Interaksi Sosial
(1) Perubahan fungsi dalam berhubungan dengan orang lain, tidak mampu menahan diri terhadap keinginan seksual.
(2) Sistem keluarga yang tidak berfungsi.
3) Pemeriksaan Diagnostik
a) Skrining obat dalam darah dan urine: mengidentifikasi adanya jenis obat yang sedang digunakan.
b) Pemeriksaan hepatitis dan HIV: dapat dilakukan rutin pada pemakaian obat yang telah diketahui menggunakan obat.


c. Gangguan Terkait-Depresan (Barbiturat, Nonbarbiturat, Hipnotik dan Ansiolitik, Opioid)
Depresan SSP merupakan obat-obatan yang memperlambat kerja SSP. Obat-obatan tersebut biasanya terdiri dari empat jenis, yaitu barbiturat, obat antiansietas, sedatif-hipnotik, dan narkotik (oploid seperti morfin, heroin).
Depresan SSP diberikan untuk mengatasi gejala ansietas, depresi, dan gangguan tidur merupakan jenis obat-obatan yang paling digunakan dan disalah gunakan.obat-obatan ini sering disalahgunakan jika kondisi sebelumnya tidak dapat teratasi. Kadang-kadang obat-obatan ini digunakan bersama-sama dengan obat-obatan stimulan ,dengan pola stimulannya digunakan untuk “ menerbangkan “ dan depresan diperlukan untuk “menurunkan”.
Prinsip yg digunakan untuk semua jenis depresan SSP, yaitu : (1) efek obat obat-obatan tersebut bersifat interaktif dan komulatif satu sama lain dan mempunyai akibat pada perilaku pemakai obat,(2)tidak ada antagonis spesifik yg yang dapat menghentikan obat-obatan tersebut.(3)penggunaan dosis rendah dapat menimbulkan respon eksitasia, (4) obat-obatan tersebut mampu menimbulkan ketergantungan fisiologis dan psikologis; dan (5) cross toleransi dan Cross ketergantungan mungkin dapat terjadi antara berbagai jenis depresan SSP.
Rencan keperawatan ini ditujukan untuk masalah intoksikasi ?putus obat akut digunakan bersama MK;Rehabilitasi Ketergantungan / Penyalah gunaan Obat.
1) Teori Etiologis
a) Psikodinamika
Individu yang menyalah gunakan obat-obatan gagal menyelesaikan tugas memisahkan sifat individusehingga mengakibatkan ego menjadi tidak berkembang. Orang tersebut mempunyai sifat ketergantungan yang tinggi , dengan ciri-ciri antara lain lemahnya kontrol terhadap rangsang ,rendahnya toleransi terhadap frustasi, dan harga diri rendah.
b) Biologis
Genetik perkirakan mempunyai pengaruh pada perkembangannya gangguan penggunaan obat-obatan . walaupun data statistik tidak memberikan kesimpulan, faktor hereditas umunya dipandang sebagai salah satu faktor yang menyebabkan salah satu penyalahgunaan obat-obatan.
c) Dinamika Keluarga
Ada predisposisi yang nyata pada gangguan penyalahgunaan obat dalam sistem keluarga yang tidak berfungsi. Faktor-faktor, misalnya tidak lengkapnya orang tua atau orang tua yang berkuasa atau sangat lemahnya dan tidak berfungsi , dan penggunaan obat-obatan sebagai metode utama untuk menghilang stress , memberikan kontribusi terjadi disfungsi ini. Model peran seperti ini mempunyai pengaruh yang negatif , dan anak akan belajar mengatasi stress dengan cara yang sama. Namun, orang tua normal dengan anak yang tidak mampu mengahadapi tekanan yang besar dari teman sebaya dapat menjadikan anak tersebut terlibat dengan obat-obatan. Faktor-faktor kultur seperti diterimanya penggunaan alkohol dan obat-obatan lainnya juga dapat mempengaruhi pilihan seseorang untuk menggunaan obat-obatan.
2) Data Dasar Pengkajian Pasien
Data bergantung pada tahap putus obat dan pemakaian obat secara bersamaan dengan alkohol/obat-obatan lain.
a) Aktivitas atau Istirahat
(1) Malaise umum
(2) Gangguan pola tidur , insomnia (pada putus obat)
(3) Latergi, mengantuk samnolen
(4) menguap
b) Sirkulasi
(1) Nadi biasanya lambat ; takikardi (menunjukan sindrom putus obat); nadi teratur fibrilasi atrium, disritmia ventrikuler)
(2) hipotensi
c) Integritas Ego
(1) Menggunakan obat-obatan untuk mengatasi stress
(2) Merasa tidak tertolong , putus asa tidak mampu
(3) Ego kurang berkembang ; mempunyai sifat ketergantungan yang tinggi , dengan ciri-ciri kontrol impuls yang buruk , toleransi frustasi yang rendah dan harga diri yang rendah
(4) Superego yang lemah, disertai dengan hilangnya perasaan bersalah
(5) Faktor-faktor psikokultural (mis. Kepribadian) dipandang sebagai hal yang signifikan disertai dengan penggunaan / penyalahgunaan obat-obatan.
d) Makan atau Minum
Mual, muntah
e) Neurosensorik
(1) Kedutan
(2) Status mental: konfusi, mempunyai masalah konsentrasi dan memori ; gangguan penilaian disertai dengan beberapa perubahan efek ; mungkin dapat terjadi gangguan kesadaran dari tingkat agitasi yang ekstrem sampai dengan koma; bicara kacau.
(3) Prilaku: perubahan alam perasaan , kurang motivasi , agresi , berkelahi (berhubungan dengan efek “disinhibisi” umum dari obat , hilangnya kontrol terhadap impuls), alam perasaan disforia (pada putus obat)
f) Nyeri atau ketidaknyamanan
Sakit kepala, nyeri/kram berat pada abdomen. Sakit otot. Nyeri otot / tulang (pada sindrome putus obat)
g) Pernapasan
(1) Rinorea yang terus menerus, lakrimasi yang berlebihan, bersin. depresi pernafasan (pada overdosis)
(2) Peningkatan frekuensi pernafasan (pada sindrome putus obat)
h) Keamanan
(1) Panas/ dingin ; diaforesis
(2) Termoregulasi tidak stabil disertai dengan hiperpireksia, mungkin terdapat hipotermia
(3) Kulit: piloereksi (“gooseflesh”) luka fungsi pada lengan, tangan, kaki ,dibawah lidah ,menjadi indikasi pengguanaan obat-obatan yang disuntikan.
i) Interaksi Sosial
(1) Sistem keluarga tidak berfungsi
(2) Pola interaksi dengan keluarga / orang lain tidak berfungsi

3) Pemeriksaan Diagnostik
a) Skrining obat : mengidentifikasi obat-obatan yang sedang digunakan
b) Skrining PMS : untuk menentukan adanya HIV , hepatitis B .dll
c) Pemeriksaan skrining lain: bergantung pada kondisi umum , faktor resiko individu , dan tempat perawatan.
d) Indeks keparahan adiksi: memperlihatkan profil beratnya masalah yang menunjukan area pengobatan yang dibutuhkan

d. Gangguan Terkait-Halusinogen Fensiklidin dan Kanabis
Obat-obat yang bersifat halusinogenik dapat menngubah persepsi individu terhadap realita, mengganggu persepsi sensori, dan menyebabkan halusinasi. Oleh karena itu obat-obat ini disebut obat yang “memperluas pikiran”. Pengaruh yang ditimbulkan setiap kali obatt-obatan ini digunakan tidak dapat diprediksi, dan reaksi yang merugikan termasuk flashback dapat terjadi setiap saat, walaupun obat-obatan ini tidak digunakan lagi.
Halusinogen telah digunakan sebagai bagian dari upacara keagaamaan dan pada perkumpulan sosial penduduk asli Amerika selama lebih dari 2000 tahun. Penggunaan terapeutik obat-obat LSD telah diajukan, tetapi perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Pada saat ini, tidak ada bukti yang menyebutkan keamanan dan efektivitas LSD pada manusia.
Dari sekian banyak obat yang menyebabkan perubahan mood dan persepsi yang bervariasi dari ilusi sensorik hingga halusinasi, jenis yang paling populer dan dikenal adalah ergot dan sejenisnya (LSD, morning glory), fenil alkilamin (meskalin, “STP”, dan MDMA atau “ekstasi”), dan indol alkaloid (DMT).
Klasifikasi terpisah dari obat-obatan ini terdiri dari fensiklidin (PCP, “angel dust”, HOG) dan obat gabungan yang mempunyai daya kerja yang sama seperti ketamin (ketalar) dan tiofen analog dari fensiklidin (TPC). Walaupun obat-obatan ini mempunyai struktur kimia yang berbeda, obat-obatan ini mempunyai efek halusiogenik yang sama dan akan diuraikan di sini.
Selain itu, kanabis (mariyuana, ganja, THC sintetik) juga menyebabkan gangguan status kesadaran yang disertai dengan perasaan relaksasi dan euforia ringan dan sering kali digunakan secara bersamaan dengan obat-obatan lainnya.
Rencana perawatan ditujukan untuk masalah intoksikasi / gejala putus obat akut dan digunakan bersamaan dengan MK: rehabilitasi ketergantungan/penyalahgunaan zat.
1) Teori Etiologis
a) Psikodinamika
Individu akan melakukan penyalahgunaan obat-obatan gagal meyelesaikan tugas memisahkan sifat individu yang mengakibatkan ego menjadi kurang berkembang. Orang tersebut diperkirakan mempunyai sifat ketergantungan yang tinggi, yang ditandai dengan kontrol impuls yang buruk, toleransi frustasi yang rendah, dan harga diri yang rendah. Superegonya lemah menyebabkan hilangnya perasaan bersalah terhadap perilakunya.
Beberapa kepribadian tertentu mungkin memainkan bagian penting dalam perkembangan dan mempertahankan ketergantungan. Karakteristik yang dapat diidentifikasikan antara lain impulsivitas, konsep diri yang negatif, ego yang lemah, kepatuhan aturan sosial yang rendah, neurotitisme, dan introversi. Penyalahgunaan obat-obatan juga dihubungkan dengan tipe kepribadian antisosial dan gaya respons yang depresif.
b) Biologis
Genetik diperkirakan dapat mempengaruhi berkembangan gangguan penyalahgunaan obat-obatan. Walaupun data statistik tidak memberi kesimpulan, faktor hereditas umumnya dianggap sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan obat-obatan. Baru-baru ini telah dilakukan penelitian tentang peran faktor biokimia pada masalah penyalahgunaan obat-obatan.
c) Dinamika Keluarga
Salah satu predisposisi yang ditemukan pada sistem keluarga yang tidak berfungsi. Sering kali disebabkan oleh orang tua yang tidak menunjukkan kekuasaan atau berkuasa secara berlebihan, dan atau orang tua yang lemah,
2) Data Dasar Pengkajian Pasien
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jenis reaksi (positif atau negatif) yang dialami oleh para pengguna halusinogen meliputi irama sirkadian (keletihan), pengalaman sebelumnya dalam menggunakan obat-obatan, kepribadian, mood dan harapan individu. Penggunaan zat atau obat bersamaan dngan alcohol atau obat lainnya dapat menambah gejala-/reaksi yang terjadi. Tingkat pendidikan seseorang juga dapat menimbulkan persepsi yang berbeda tentang penyalahgunaan zat.
a) Aktivitas atau Istirahat
(1) Insomnia atau keletihan
(2) Gangguan tidur/selalu terjaga.
(3) Hiperaktifitas
b) Sirkulasi
(1) Penurunan TD diastolik (pada penggunaan kanabis, PCP dosis tinggi).
(2) Hipertensi, krisis hipertensi (pada penggunaan PCP dosis rendah sampai sedang).
(3) Takhikardi/palpitasi; kemungkinan terjadi distritmia (pada penggunaan PCP dosis tinggi)
c) Integritas Ego
(1) Euphoria, ansietas, curiga, paranoia (pada psikosis PCP).
(2) Penyalahgunaan zat menjadi metode koping yang utama.
(3) Sifat ketergantungan yang tinggi, dengan karakteristik meliputi control impuls yang buruk, toleransi frustasi yang rendah, konsep diri yang rendah; depersonalisasi, super ego yang lemah akan menyebabkan hilangnya perasaan bersalah terhadap perilaku atau mencela diri sendiri, perasaan bersalah yang berlbihan, sangat ketakutan.
(4) Mood menunjukkan depresi atau ansietas.
(5) Preokupasi dengan pendepatnya sendiri bahwa otaknya telah rusak dan atau tidak akan kembali ke dalam normal.
d) Makan atau Minum
(1) Nafsu makan meningkat (pada penggunaan kanabis)
(2) Mual atau muntah, saliva meningkat.
e) Neurosensorik
(1) Pandangan kabur, gangguan persepsi kedalaman.
(2) Pusing, sakit kepala (pada penggunaan LSD).
(3) Tidak ada koordinaasi otot atau tremor, spasme atau peningkatan kekuatan otot.
(4) Tingkat kesadaran: biasanya responsive; dapat terjadi, khususnya bila terjadi perdarahan intra cranial.
(5) Status mental: perubahan persepsi, delirium dengan status kesadaran yang tidak jelas, mood; euphoria atau disforia; ansietas, emosi yang labil dan apatis, perilaku; menyerang, perilaku aneh, senang berkelahi, keserangan panic.
f) Nyeri atau ketidaknyamanan
(1) Penurunan kesadaran terhadap rasa nyeri.
(2) Nyeri dada ecara tiba-tiba (jika obat-obatan digunakan dengan cara menghisab asapnya).
g) Pernapasan
(1) Penurunan frekuensi atau kedalaman napas
(2) Ronchi
h) Keamanan
(1) Melakukan tindakan yang beresiko tinggi.
(2) Riwayat trauma kecelakaan, diaphoresis, perilaku menyerang (perilaku yang beresiko terhadap diri sendiri).
i) Interaksi Sosial
(1) Tekanan yang besar dari teman sebaya dapat menyebabkan pemakaian obat-obatan.
(2) System keluarga yang tidak berfungsi (orang tua yang overprotektif atau tirani tidak memperhatikan atau orang tua yang lemah dan tidak efektif).
3) Pemeriksaan Diagnostik
a) Skrining obat/urinalisis: untuk mengidentifikasi obat-obatan yang sedang digunakaan.
b) Pemeriksaan krining lain (mis. Hepatitis, HIV, TB): bergentung pada kondisi umum, factor resiko individual, dan tempat perawatan.
c) Indeks keparahan adiksi: untuk mengkaji tingkat penyalahgunaan obat-obatan dan menentukan engobatan yang diperlukan.


4. Strategi pelaksanaan dalam Keperawatan Jiwa
a. SP Pasien
1) Sp 1
a) Membina hubungan saling percaya.
b) Mendiskusikan dampak NAPZA.
c) Mendiskusikan cara meningkatkan motivasi.
d) Mendiskusikan cara mengontrol keinginan.
e) Latihan cara meningkatkan motivasi.
f) Latihan cara mengontrol keinginan
g) Membuat jadwal aktivitas
2) Sp 2
a) Mendiskusikan cara menyelesaikan masalah.
b) Mendiskusikan cara hidup sehat.
c) Latihan cara menyelesaikan masalah.
d) Latihan cara hidup sehat.
e) Mendiskusikan tentang obat
b. SP Keluarga
1) Sp 1
a) Mendiskusikan masalah yang dialami.
b) Mendiskusikan tentang NAPZA.
c) Mendiskusikan tahapan penyembuhan.
d) Mendiskusikan cara merawat.
e) Mendiskusikan kondisi yang perlu dirujuk.
f) Latihan cara merawat
2) Sp 2
a) Mendiskusikan cara meningkatkan motivasi.
b) Mendiskusikan pengawasan dalam minum obat

D. REHABILITASI PENYALAHGUNAAN/KETERGANTUNGAN NAPZA
Rehabilitasi adalah upaya kesehatan yang dilakukan secara utuh dan terpadu melalui pendekatan non medis, psikologis, sosial dan religi agar pengguna NAPZA yang menderita sindroma ketergantungan dapat mencapai kemampuan fungsional seoptimal mungkin. Tujuannya pemulihan dan pengembangan pasien baik fisik, mental, sosial, dan spiritual. Sarana rehabilitasi yang disediakan harus memiliki tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan (Depkes, 2001).
Sesudah klien penyalahgunaan/ketergantungan NAPZA menjalani program terapi (detoksifikasi) dan konsultasi medik selama 1 (satu) minggu dan dilanjutkan dengan program pemantapan (pascadetoksifikasi) selama 2 (dua) minggu, maka yang bersangkutan dapat melanjutkan ke program berikutnya yaitu rehabilitasi (Hawari, 2003).
Lama rawat di unit rehabilitasi untuk setiap rumah sakit tidak sama karena tergantung pada jumlah dan kemampuan sumber daya, fasilitas, dan sarana penunjang kegiatan yang tersedia di rumah sakit. Setelah klien mengalami perawatan selama 1 minggu menjalani program terapi dan dilanjutkan dengan pemantapan terapi selama 2 minggu maka klien tersebut akan dirawat di unit rehabilitasi (rumah sakit, pusat rehabilitasi, dan unit lainnya) selama 3-6 bulan. Sedangkan lama rawat di unit rehabilitasi berdasarkan parameter sembuh menurut medis bisa beragam 6 bulan dan 1 tahun, mungkin saja bisa sampai 2 tahun.
Berdasarkan pengertian dan lama rawat di atas, maka perawatan di ruang rehabilitasi tidak terlepas dari perawatan sebelumnya yaitu di ruang detoksifikasi. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada bagan di bawah ini
Kenyataan menunjukkan bahwa mereka yang telah selesai menjalani detoksifikasi sebagian besar akan mengulangi kebiasaan menggunakan NAPZA, oleh karena rasa rindu (craving) terhadap NAPZA yang selalu terjadi. Dengan rehabilitasi diharapkan pengguna NAPZA dapat:
- Mempunyai motivasi kuat untuk tidak menyalahgunakan NAPZA lagi
- Mampu menolak tawaran penyalahgunaan NAPZA.
- Pulih kepercayaan dirinya, hilang rasa rendah dirinya.
- Mampu mengelola waktu dan berubah perilaku sehari-hari dengan baik.
- Dapat berkonsentrasi untuk belajar atau bekerja
- Dapat diterima dan dapat membawa diri dengan baik dalam pergaulan dengan lingkungannya.

1. Jenis program rehabilitasi:
1) Rehabilitasi psikososial
Program rehabilitasi psikososial merupakan persiapan untuk kembali ke masyarakat (reentry program). Oleh karena itu, klien perlu dilengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan misalnya dengan berbagai kursus atau balai latihan kerja di pusat-pusat rehabilitasi. Dengan demikian diharapkan bila klien selesai menjalani program rehabilitasi dapat melanjutkan kembali sekolah/kuliah atau bekerja.
2) Rehabilitasi kejiwaan
Dengan menjalani rehabilitasi diharapkan agar klien rehabilitasi yang semua berperilaku maladaptif berubah menjadi adaptif atau dengan kata lain sikap dan tindakan antisosial dapat dihilangkan, sehingga mereka dapat bersosialisasi dengan sesama rekannya maupun personil yang membimbing dan mengasuhnya. Meskipun klien telah menjalani terapi detoksifikasi, seringkali perilaku maladaptif tadi belum hilang, keinginan untuk menggunakan NAPZA kembali atau craving masih sering muncul, juga keluhan lain seperti kecemasan dan depresi serta tidak dapat tidur (insomnia) merupakan keluhan yang sering disampaikan ketika melakukan konsultasi dengan psikiater. Oleh karena itu, terapi psikofarmaka masih dapat dilanjutkan, dengan catatan jenis obat psikofarmaka yang diberikan tidak bersifat adiktif (menimbulkan ketagihan) dan tidak menimbulkan ketergantungan. Dalam rehabilitasi kejiwaan ini yang penting adalah psikoterapi baik secara individual maupun secara kelompok. Untuk mencapai tujuan psikoterapi, waktu 2 minggu (program pascadetoksifikasi) memang tidak cukup; oleh karena itu, perlu dilanjutkan dalam rentang waktu 3 – 6 bulan (program rehabilitasi). Dengan demikian dapat dilaksanakan bentuk psikoterapi yang tepat bagi masing-masing klien rehabilitasi. Yang termasuk rehabilitasi kejiwaan ini adalah psikoterapi/konsultasi keluarga yang dapat dianggap sebagai rehabilitasi keluarga terutama keluarga broken home. Gerber (1983 dikutip dari Hawari, 2003) menyatakan bahwa konsultasi keluarga perlu dilakukan agar keluarga dapat memahami aspek-aspek kepribadian anaknya yang mengalami penyalahgunaan NAPZA.
3) Rehabilitasi komunitas
Berupa program terstruktur yang diikuti oleh mereka yang tinggal dalam satu tempat. Dipimpin oleh mantan pemakai yang dinyatakan memenuhi syarat sebagai koselor, setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan. Tenaga profesional hanya sebagai konsultan saja. Di sini klien dilatih keterampilan mengelola waktu dan perilakunya secara efektif dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga dapat mengatasi keinginan mengunakan narkoba lagi atau nagih (craving) dan mencegah relaps. Dalam program ini semua klien ikut aktif dalam proses terapi. Mereka bebas menyatakan perasaan dan perilaku sejauh tidak membahayakan orang lain. Tiap anggota bertanggung jawab terhadap perbuatannya, penghargaan bagi yang berperilaku positif dan hukuman bagi yang berperilaku negatif diatur oleh mereka sendiri.
4) Rehabilitasi keagamaan
Rehabilitasi keagamaan masih perlu dilanjutkan karena waktu detoksifikasi tidaklah cukup untuk memulihkan klien rehabilitasi menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya masing-masing. Pendalaman, penghayatan, dan pengamalan keagamaan atau keimanan ini dapat menumbuhkan kerohanian (spiritual power) pada diri seseorang sehingga mampu menekan risiko seminimal mungkin terlibat kembali dalam penyalahgunaan NAPZA apabila taat dan rajin menjalankan ibadah, risiko kekambuhan hanya 6,83%; bila kadang-kadang beribadah risiko kekambuhan 21,50%, dan apabila tidak sama sekali menjalankan ibadah agama risiko kekambuhan mencapai 71,6%.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar